Tarif & Geopolitik Memanas: Dampaknya ke Minyak & DXY
Uni Eropa bersiap mempercepat pelarangan LNG Rusia sebagai bagian dari paket sanksi baru—termasuk membidik “shadow fleet” kapal tanker yang membantu Moskow menghindari sanksi. Target fase-out kini dimajukan hingga 1 Januari 2027, lebih cepat dari rencana sebelumnya, dan dibentuk setelah komunikasi tingkat tinggi Brussel–Washington. Paket ini melengkapi langkah UE sebelumnya yang sudah memperluas daftar kapal dan entitas terkait energi Rusia.
Di AS, Gedung Putih mendorong rejim tarif luas: baseline 10% tarif umum dan tarif resiprokal lebih tinggi untuk negara dengan defisit dagang besar. Kerangka eksekutif terbaru memperluas prosedur penerapan tarif/“reciprocal tariffs” ke depan. Kajian independen menilai kebijakan ini menaikkan tarif efektif AS ke kisaran yang jauh di atas sejarah modern, dengan konsekuensi ke pertumbuhan dan inflasi.
Dampak ke minyak: Arah kebijakan UE yang memersempit pasokan Rusia (LNG dan pengawasan shadow fleet) cenderung menopang harga lewat risiko gangguan arus energi. Namun, retorika AS yang mendorong harga minyak lebih rendah untuk menekan Moskow, plus kekhawatiran permintaan AS, menahan reli—hasilnya, harga berpotensi range-bound dengan bias sensitif pada berita sanksi/serangan infrastruktur. (Implisit: tiap eskalasi sanksi, bullish minyak; sinyal tarif/permintaan melemah menekan harga.)
Dampak ke DXY (indeks dolar): Pengetatan energi Eropa berisiko menaikkan inflasi global, mendorong arus save-haven ke USD jika sentimen rapuh. Di sisi lain, tarif AS yang luas cenderung menguatkan dolar lewat premi risiko dan repatriasi, meski pada horizon berikutnya dapat menekan pertumbuhan dan memperbesar volatilitas. Net-net, DXY berpotensi tetap bid saat gejolak, tetapi sensitif pada data inflasi/pertumbuhan yang dipicu kombinasi tarif dan biaya energi.(ads)
Sumber: Bloomberg.com