BRICS Panas, India Ditekan!
Presiden AS Donald Trump kembali membuat gebrakan dengan mengancam mengenakan tarif tambahan 10% terhadap India, sebagai tanggapan atas keikutsertaan negara tersebut dalam forum ekonomi BRICS. Pernyataan ini disampaikan hanya sehari setelah Trump mengatakan bahwa kesepakatan dagang antara AS dan India hampir rampung, sebuah perjanjian yang sangat dinantikan New Delhi demi menghindari tarif balasan sebesar 26%.
Ancaman tersebut menempatkan India dalam posisi sulit. Di satu sisi, negara itu ingin tetap aktif di BRICS, namun di sisi lain, India juga sangat berkepentingan untuk menjaga hubungan strategis dan ekonomi dengan Washington. Meskipun Brasil dan Afrika Selatan secara terbuka mengkritik Trump atas pernyataannya terhadap BRICS, India memilih tidak memberikan respons langsung, menandakan kehati-hatian diplomatik dalam menjaga keseimbangan hubungan luar negeri.
Pejabat India menyatakan bahwa India tidak punya niat untuk melemahkan dolar AS dan tidak mendukung mata uang tunggal BRICS. India menekankan bahwa keterlibatannya dalam perdagangan mata uang lokal hanya untuk mengurangi risiko perdagangan, bukan sebagai bagian dari upaya de-dolarisasi seperti yang dituduhkan. India juga sedang bersiap mengambil alih kepemimpinan BRICS pada 2026, sehingga semakin penting bagi mereka untuk membedakan posisinya dari Tiongkok dan Rusia yang lebih vokal terhadap dominasi AS.
Hingga kini, kesepakatan dagang AS–India belum final, meski kedua pihak telah berunding selama berbulan-bulan. Beberapa analis menilai bahwa ancaman tarif Trump ini bisa jadi hanya strategi negosiasi untuk menekan India memberikan lebih banyak konsesi. Meski hubungan kedua negara masih tergolong erat, ketegangan politik dan perang narasi dapat mempengaruhi hasil akhir kesepakatan. Jika kesepakatan ini berhasil tercapai dalam beberapa bulan ke depan, itu akan menjadi sinyal kuat bahwa kemitraan AS–India tetap kokoh di tengah dinamika global.
Sumber: (ayu-newsmaker)