Menlu Iran: Pembicaraan dengan AS “Awal yang Baik”, Fokusnya Hanya Nuklir
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyebut pertemuan pejabat Iran dan Amerika Serikat di Oman pada Jumat sebagai “awal yang baik”. Ia mengatakan pembicaraan itu secara eksklusif membahas isu nuklir, dan kedua pihak sepakat untuk melanjutkan negosiasi di waktu berikutnya.
Sebelum pertemuan dimulai, pihak AS sempat menyampaikan bahwa agenda seharusnya tidak hanya soal nuklir, tetapi juga mencakup rudal balistik Iran dan dukungan Iran terhadap kelompok bersenjata di kawasan Timur Tengah. Namun Araghchi menegaskan Iran tidak membahas isu lain di luar nuklir dengan AS.
Negosiasi ini dimediasi oleh pejabat Oman dan menjadi pertemuan pertama Iran–AS sejak konflik militer yang pecah pada Juni tahun lalu. Tujuannya adalah mencegah pecahnya konflik lanjutan yang berisiko menyeret kawasan ke perang yang lebih luas. Araghchi mengakui masih ada “ketidakpercayaan” yang harus diatasi, dan setelah itu barulah kerangka pembicaraan baru bisa ditetapkan. Ia menambahkan, waktu, lokasi, dan format pertemuan berikutnya akan diputuskan kemudian.
Media Iran melaporkan pembicaraan berlangsung dalam beberapa putaran, dengan Menlu Oman Badr Albusaidi bertemu kedua delegasi secara terpisah. Albusaidi mengatakan pertemuan itu membantu memperjelas posisi masing-masing pihak dan mengidentifikasi area yang masih mungkin untuk kemajuan.
Delegasi AS disebut dipimpin oleh Steve Witkoff (utusan khusus Presiden Donald Trump) dan Jared Kushner. Seorang pejabat AS juga menyebut Adm. Brad Cooper—kepala pasukan AS di Timur Tengah—ikut dalam rombongan, meski pihak militer AS tidak memberi komentar resmi.
Dalam beberapa pekan terakhir, ketegangan meningkat setelah Trump beberapa kali mengancam serangan ke Iran, termasuk pengerahan kekuatan militer AS ke kawasan Teluk. Iran juga mengancam akan membalas keras jika diserang. Araghchi menegaskan syarat dasar dialog adalah menghentikan ancaman dan tekanan.
Sementara itu, laporan menyebut negara-negara di Timur Tengah mendorong agar pembicaraan difokuskan dulu pada isu nuklir untuk menghindari kebuntuan cepat. Sejumlah diplomat regional menyebut opsi yang dibahas termasuk membatasi pengayaan uranium Iran ke level rendah (sekitar 3% atau kurang), sehingga Iran tetap “save face” tanpa mendekati level yang dibutuhkan untuk senjata nuklir.
Tiga pejabat Iran juga mengatakan Tehran bisa mempertimbangkan penangguhan jangka panjang program nuklirnya, dengan imbalan AS mencabut sanksi yang menekan ekonomi Iran. Namun sejumlah pejabat regional menilai tuntutan AS di luar isu nuklir—seperti rudal balistik dan hubungan Iran dengan kelompok milisi—akan sangat sulit disepakati.
Analis Iran, Farzan Sabet, menilai peluang kesepakatan tetap ada tetapi ruangnya sempit dan peluangnya relatif rendah. Jika Iran setuju membatasi program nuklirnya (setidaknya sepanjang pemerintahan Trump), Trump bisa mengklaim itu sebagai kemenangan besar tanpa perang—namun kesepakatan seperti itu juga dinilai tidak ideal bagi kedua pihak.
Sumber: The New York Times