Negosiasi AS–Iran Dimulai, Teheran: Ini Baru Bab 1
Iran dan Amerika Serikat dijadwalkan memulai negosiasi pada Jumat (6/2) di Muscat, Oman, dalam upaya meredakan ketegangan yang dikhawatirkan bisa melebar menjadi konflik terbuka. Namun dari awal, Iran sudah memberi sinyal: pertemuan ini kemungkinan baru “awal” dari proses diplomasi yang lebih panjang—bukan ajang “deal cepat”.
Menurut laporan media pemerintah Iran (IRNA) yang dikutip Reuters, pembicaraan di Muscat akan fokus pada “topik luas” dulu, bukan detail teknis. Target utamanya adalah memperjelas peta jalan (road map) untuk putaran negosiasi lanjutan setelah sesi pertama selesai.
Delegasi AS diperkirakan dipimpin Steve Witkoff (utusan khusus Presiden Donald Trump), sementara pihak Iran dipimpin Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi. Iran menekankan prioritas awal mereka adalah menguji itikad baik dan keseriusan pihak AS sebelum masuk ke pembahasan yang lebih spesifik.
Masalahnya, dari awal agenda kedua pihak belum “ketemu.” Iran ingin pembahasan dibatasi pada isu nuklir, sementara AS mendorong agar negosiasi juga mencakup program misil balistik dan dukungan Iran terhadap kelompok-kelompok bersenjata di kawasan. Perbedaan ini jadi alasan utama pasar menilai jalan menuju kesepakatan masih panjang dan penuh tarik-ulur.
Dampak ketegangan ini sudah terasa di pasar energi: harga minyak sepanjang tahun ini sempat melonjak karena premi risiko perang di Timur Tengah. Pada Jumat, minyak bergerak naik lagi, dengan Brent sekitar $68-an per barel dalam perdagangan awal, sementara pasar tetap sensitif pada headline dari Oman dan risiko Selat Hormuz.
Kekhawatiran soal keamanan jalur pelayaran juga ikut memanas. Bloomberg melaporkan sejumlah operator supertanker mempercepat laju saat melewati Selat Hormuz karena mengantisipasi risiko yang meningkat—menambah ketegangan di pasar freight dan logistik minyak.
Di tengah situasi itu, Iran juga dilaporkan menahan dua kapal di Teluk yang diduga membawa lebih dari 1 juta liter bahan bakar selundupan, dan awak kapalnya (15 orang asing) diserahkan ke otoritas hukum. Langkah seperti ini memang kerap dilakukan Iran dalam operasi anti-penyelundupan, tapi timing-nya membuat pasar makin waspada.
Sementara itu, peringatan dari Washington ikut menambah tensi. Al Jazeera melaporkan “US Virtual Embassy” mengunggah imbauan agar warga AS mempertimbangkan meninggalkan Iran, yang menegaskan situasi masih dipandang berisiko meski jalur diplomasi dibuka. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id