Trump Jadi Salesman Boeing di Sidang PBB?
Pesanan besar pesawat biasanya diumumkan di ajang internasional seperti Paris atau Dubai Airshow. Namun pekan ini, Washington dan New York justru menjadi panggung utama berkat pertemuan Sidang Umum PBB. Selain membahas isu global, forum ini juga menjadi ajang economic statecraft khas Presiden Donald Trump: memadukan diplomasi dengan deal bisnis raksasa.
Trump kembali menjadikan Boeing sebagai simbol pengaruh ekonomi AS. Hingga Agustus, produsen pesawat ini telah mengamankan 725 penjualan, melampaui 600 unit yang dicatat rivalnya, Airbus. Turki disebut tengah menyiapkan pesanan hingga 250 jet komersial, sementara Uzbekistan Airways resmi memesan 22 unit Dreamliner 787 — pesanan terbesar dalam sejarah maskapai tersebut. Trump dengan cepat menyanjung transaksi ini sebagai “deal hebat” di akun Truth Social.
Negara lain juga masuk dalam radar. Maroko sedang menimbang tawaran Boeing dan Airbus, sementara Indonesia diperkirakan akan meresmikan pembelian 50 unit 737 Max setelah kesepakatan dagang dengan AS. Sebelumnya, Trump juga mengklaim peran dalam berbagai kesepakatan, termasuk pesanan dari Qatar, Arab Saudi, hingga Etihad Airways. Meski begitu, banyak kontrak bersifat tentatif dan membutuhkan waktu lama karena kapasitas produksi Boeing dan Airbus masih terbatas.
Satu peluang besar yang masih menggantung adalah China, dengan potensi pesanan hingga 500 pesawat. Namun, ketegangan dagang menahan kesepakatan. Trump disebut akan bertemu Presiden Xi Jinping pada KTT APEC mendatang, membuka kemungkinan negosiasi baru. Meski sebagian besar pesanan baru hanya akan terealisasi jauh setelah Trump meninggalkan Gedung Putih, ia tetap memposisikan diri sebagai “salesman utama” Boeing di panggung dunia. (ads)
Source: Bloomberg.com