Hormuz Jadi Titik Retak Damai AS-Iran
Kesepakatan damai sementara antara Amerika Serikat dan Iran praktis runtuh setelah AS kembali memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan Iran dan melancarkan gelombang serangan udara baru. Di saat yang sama, Iran kembali menyerang kapal tanker minyak yang melintas di Selat Hormuz, membuat ketegangan di jalur energi utama dunia semakin panas.
Lalu lintas kapal di Selat Hormuz mulai menurun tajam, sementara harga minyak terus melonjak. Brent kini diperdagangkan di atas US$86 per barel dan telah naik sekitar 20% sejak serangan kembali meningkat. Selat Hormuz menjadi pusat konflik karena sebelum perang pecah, sekitar seperlima pasokan minyak dan LNG dunia mengalir melalui jalur sempit tersebut.
Ketegangan meningkat setelah AS menyerang sejumlah lokasi militer di wilayah selatan Iran selama lima jam pada Senin malam. Iran kemudian membalas dengan menargetkan pangkalan AS di Yordania dan Bahrain, serta menyerang dua kapal tanker Uni Emirat Arab menggunakan rudal jelajah. Serangan terhadap tanker tersebut menewaskan satu awak asal India dan melukai sekitar delapan orang lainnya.
Iran mengeklaim kapal-kapal tanker itu mengabaikan peringatan dan keluar dari jalur navigasi yang disetujui Teheran. Sementara itu, AS menilai Iran terus mengganggu kebebasan pelayaran. Kedua pihak kini saling menuduh melanggar memorandum of understanding yang sebelumnya ditandatangani untuk membuka kembali Hormuz dan meredakan konflik.
Situasi makin rumit setelah Presiden Donald Trump menyatakan Selat Hormuz tetap terbuka, tetapi AS akan meminta biaya penggantian 20% dari seluruh kargo yang melintas. Rencana ini mengejutkan pelaku industri pelayaran karena sebelumnya AS menolak adanya pungutan apa pun di jalur internasional tersebut. Jika diterapkan, biaya ini bisa menambah sekitar US$32 juta untuk kapal tanker raksasa berkapasitas 2 juta barel.
Dampaknya ke market, konflik Hormuz kini menjadi risiko besar bagi minyak, inflasi, dan pasar global. Jika blokade terus berjalan dan Iran makin sering menyerang kapal komersial, harga minyak bisa bertahan tinggi lebih lama. Kondisi ini berpotensi memperkuat tekanan inflasi, membuat bank sentral lebih hawkish, dan menekan aset berisiko seperti saham serta crypto. Namun, jika arus kapal kembali normal, sebagian premi perang di harga minyak bisa mulai mereda. (arl)
Sumber : Newsmaker.id