Awas Pasar Masuk Mode Waspada! Iran Ditolak AS
Presiden AS Donald Trump dan Iran saling menolak usulan perdamaian terbaru untuk mengakhiri konflik 10 pekan di Timur Tengah, di tengah upaya mempertahankan gencatan senjata yang rapuh. Trump mengatakan telah membaca tanggapan dari “perwakilan” Iran dan mengatakan “sama sekali tidak dapat diterima” melalui unggahan media sosial.
Pasca komentar Trump, dolar AS melanjutkan penguatan terhadap mata uang utama lainnya, mencerminkan pergeseran pasar ke aset safe haven ketika risiko geopolitik kembali meningkat. Pada saat yang sama, pelaku pasar menilai arah negosiasi masih belum jelas, termasuk apakah proposal pertukaran ini membuka jalan untuk normalisasi jalur pelayaran energi.
Media melaporkan Iran menawarkan untuk mengecerkan sebagian stok uranium yang sangat memperkaya dan mengirim tambahan ke negara ketiga. Namun, Iran disebut meminta jaminan bahwa uranium yang dipindahkan harus dikembalikan jika perundingan gagal, serta menolak peluncuran fasilitas nuklirnya.
Iran melalui kantor berita semi-resmi Tasnim membantah laporan tersebut dan menyatakan tidak benar. Pernyataan Iran perintah menuntut izin perang segera, pembebasan aset yang ditahan, pencabutan sanksi AS atas penjualan minyak, izin blokade AS di Teluk Oman, serta pada akhirnya pengelolaan Selat Hormuz oleh Iran. Media pemerintah juga menyebut Iran menilai rencana Trump setara dengan “menyerah” dan meminta AS membayar kerusakan perang.
Ketidakpastian soal Selat Hormuz langsung tercermin ke pasar energi. Harga minyak melonjak setelah penolakan Trump, dengan Brent naik sekitar 3,5% ke atas US$104 per barel, sementara indeks berjangka saham AS melemah tipis karena sentimen risiko memburuk.
Trump tidak menyetujui permintaannya, tetapi tekanan politik domestik ikut menjadi latar, termasuk dorongan untuk menurunkan harga bensin menjelang pemilu paruh waktu November. Konflik ini meliputi ribuan orang, mengganggu pasar minyak dan gas, serta menambah beban bagi pemerintah dan konsumen secara global. Ke depan, pergerakan dolar, emas, dan minyak akan sangat ditentukan oleh dua variabel: arah negosiasi AS–Iran dan status akses pelayaran di Selat Hormuz. Jika ketegangan berlanjut dan pasokan energi tetap tinggi, minyak cenderung bertahan volatil dengan bias naik, yang pada gilirannya menjaga tekanan inflasi dan bisa memperkuat ekspektasi suku bunga bertahan tinggi, sehingga dolar berpotensi tetap ditopang. Bagi emas, dampaknya bisa dua arah: eskalasi geopolitik biasanya mendukung permintaan safe haven, tetapi penguatan dolar dan ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama menjadi penghambat; hasil akhirnya bergantung pada mana yang lebih dominan dalam beberapa sesi ke depan.
5 poin inti:
- Trump dan Iran saling menolak usulan perdamaian; Trump menyebut tanggapan Iran “sama sekali tidak dapat diterima”.
- Dolar AS menguat pasca komentar Trump, menandakan pasar kembali mencari safe haven.
- Laporan soal proposal nuklir Iran (pengenceran/pengiriman ke negara ketiga) dibantah Tasnim.
- Iran menuntut paksaan perang, pelonggaran sanksi minyak, izin aset, serta perubahan pengaturan keamanan/akses di kawasan termasuk Hormuz.
- Minyak melonjak dan saham berjangka AS melemah tipis karena risiko gangguan Hormuz kembali menekan sentimen.(asd)
Sumber: Newsmaker.id