Emas Melemah, Simak Penyebabnya!
Emas melemah setelah Presiden AS Donald Trump menolak tawaran damai terbaru Iran untuk mengakhiri konflik 10 pekan yang mengganggu jalur energi di Selat Hormuz. Penolakan itu kembali memicu kekhawatiran inflasi karena ketegangan geopolitik berisiko mengangkat biaya energi dan logistik.
Bullion diperdagangkan di sekitar US$4.678 per ons, turun 0,65% setelah sempat naik sekitar 2% pekan lalu. Tekanan muncul karena pasar kembali menilai risiko inflasi bisa bertahan lebih lama.
Situasi di Timur Tengah juga dinilai masih rapuh. Serangan drone pada Minggu dilaporkan sempat membakar kapal kargo di lepas Qatar, sementara Uni Emirat Arab dan Kuwait menyatakan berhasil mencegat drone yang dianggap bermusuhan. Perkembangan ini menjaga sentimen risiko tetap tinggi, namun sekaligus menguatkan ekspektasi suku bunga bertahan tinggi yang biasanya membebani emas.
Fokus pasar beralih ke data inflasi konsumen AS yang rilis Selasa, setelah inflasi Maret mencatat kenaikan bulanan terbesar sejak 2022. Jika inflasi kembali kuat, ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat atau lebih lama bertahan dapat menekan aset tanpa imbal hasil seperti emas.
Dari sisi kebijakan, masa jabatan Ketua The Fed Jerome Powell disebut akan berakhir pekan ini, dengan isu independensi bank sentral ikut menjadi perhatian pasar. Data tenaga kerja AS terbaru juga menunjukkan payroll kembali naik pada April dan pengangguran bertahan di 4,3%, memberi ruang bagi The Fed menahan suku bunga sambil memantau risiko inflasi baru. Di pasar lain, dolar AS menguat tipis 0,1%, sementara perak turun 0,1% dan platinum serta paladium ikut melemah.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id