Pasar Cemas Dampak Tarif AS dan Kelebihan Pasokan Global
Harga minyak mentah dunia, khususnya jenis Brent, kembali melemah pada perdagangan Senin (13/10/2025) seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap dampak kebijakan tarif baru Amerika Serikat dan potensi kelebihan pasokan global. Langkah agresif pemerintahan Donald Trump untuk menaikkan tarif impor dari China menambah tekanan terhadap sentimen pasar energi yang sudah rapuh akibat ketidakpastian ekonomi global.
Secara fundamental, pelaku pasar menilai ancaman tarif ini berpotensi memperlambat permintaan energi dunia. Data dari Energy Information Administration (EIA) menunjukkan produksi minyak AS tetap berada di level tinggi, yakni sekitar 13,5 juta barel per hari, memperbesar potensi kelebihan pasokan di kuartal akhir tahun ini. EIA juga memperkirakan harga Brent bisa rata-rata berada di kisaran USD 62 per barel hingga akhir 2025, jika kondisi permintaan tidak membaik.
Sementara itu, keputusan terbaru OPEC+ untuk menambah produksi secara moderat sekitar 137 ribu barel per hari menjadi penyeimbang di tengah tekanan harga. Namun, investor tetap waspada jika peningkatan suplai dilakukan lebih agresif, yang bisa memperdalam penurunan harga. Di sisi lain, permintaan dari India masih menjadi faktor penopang harga karena negara tersebut menjadi salah satu konsumen minyak terbesar di dunia menjelang akhir tahun.
Dari sisi teknikal, pergerakan harga Brent menunjukkan tren bearish dalam jangka pendek. Berdasarkan data Investing.com, indikator teknikal harian memberikan sinyal Strong Sell, dengan resistance terdekat di USD 64 per barel dan support utama di sekitar USD 62,5. Jika harga menembus di bawah level support tersebut, peluang penurunan lebih lanjut akan terbuka menuju area USD 60 per barel. Namun, apabila rebound terjadi didukung oleh sentimen positif dari negosiasi perdagangan atau kenaikan permintaan musiman, harga berpotensi menguji kembali level USD 66–67 per barel.
Dengan situasi geopolitik yang belum stabil, ancaman tarif AS terhadap China, serta ketegangan di Timur Tengah, harga minyak dunia diperkirakan masih akan berfluktuasi tajam dalam waktu dekat. Investor kini menanti sinyal baru dari pertemuan FOMC dan perkembangan negosiasi dagang global yang berpotensi menjadi katalis utama pergerakan harga minyak di minggu ini.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id