Pasar Menanti Rilis Dot Plot The Fed, Arah Kebijakan Moneter Jadi Sorotan
Pasar keuangan global tengah menanti rilis terbaru dot plot Federal Reserve yang akan diumumkan usai pertemuan FOMC pada 16–17 September 2025. Grafik berisi proyeksi suku bunga masing-masing anggota dewan itu diyakini akan menjadi petunjuk utama arah kebijakan moneter Amerika Serikat hingga 2027.
Sebelumnya, dot plot edisi Juni menunjukkan median anggota FOMC memperkirakan dua kali pemangkasan suku bunga tahun ini. Namun, dengan inflasi yang masih berada di atas target dan pasar tenaga kerja mulai melemah, analis menilai proyeksi terbaru berpotensi lebih hati-hati. Ada kemungkinan pemotongan suku bunga 2025 hanya sekali, dengan jalur pelonggaran yang lebih lambat untuk 2026 dan 2027.
Data inflasi inti yang tetap tinggi serta risiko tarif impor membuat The Fed diperkirakan tidak akan agresif menurunkan suku bunga. Beberapa ekonom bahkan memperkirakan proyeksi suku bunga untuk 2026 dan 2027 akan direvisi lebih tinggi dibanding perkiraan sebelumnya.
Pasar uang saat ini telah sepenuhnya memperhitungkan pemotongan 25 basis poin pada pertemuan September. Namun, pelaku pasar akan sangat memperhatikan bagaimana dot plot menggambarkan jalur kebijakan jangka menengah. Jika jumlah pemotongan lebih sedikit dari ekspektasi, imbal hasil obligasi bisa bertahan tinggi dan menekan aset berisiko. Sebaliknya, panduan yang lebih dovish berpotensi mendorong penguatan saham dan logam mulia.
Reaksi Awal Pasar
Dolar AS biasanya menguat jika dot plot menunjukkan jalur suku bunga yang lebih tinggi dari perkiraan, dan melemah bila outlook lebih dovish.
Emas dan perak cenderung naik jika proyeksi pemangkasan suku bunga lebih agresif, karena biaya peluang memegang aset tanpa bunga menjadi lebih rendah.
Saham AS umumnya bereaksi positif terhadap outlook suku bunga yang lebih rendah, meski sektor perbankan bisa tertekan karena margin bunga menyempit.
Obligasi pemerintah AS (Treasuries) sensitif terhadap dot plot; jika proyeksi menunjukkan suku bunga bertahan tinggi lebih lama, yield naik dan harga obligasi turun.
Cryptocurrency seperti Bitcoin dan Ethereum kerap bergerak volatil mengikuti rilis dot plot. Proyeksi pemangkasan suku bunga yang lebih cepat biasanya mendukung reli kripto karena likuiditas pasar bertambah. Sebaliknya, jika The Fed memberi sinyal “higher for longer”, aset digital bisa tertekan akibat arus modal kembali ke obligasi dan dolar.
Dengan demikian, rilis dot plot kali ini dipandang sebagai momen krusial untuk menentukan arah suku bunga AS ke depan. Pernyataan Ketua Fed Jerome Powell pasca pertemuan juga akan menjadi sorotan, khususnya mengenai bagaimana bank sentral menyeimbangkan mandat inflasi dan stabilitas ketenagakerjaan di tengah kondisi ekonomi yang rapuh.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id