Surplus Pasokan Menekan, Pasar Global Siaga Risiko Baru
Minyak mentah diperdagangangkan dengan hati-hati Senin (15/9) ini setelah laporan terbaru menunjukkan potensi surplus pasokan global di tengah permintaan yang masih lesu. Keputusan OPEC+ yang mulai melonggarkan pemangkasan produksi, ditambah meningkatnya suplai dari produsen non-OPEC, membuat pasar menimbang risiko kelebihan pasokan pada kuartal mendatang.
Berdasarkan laporan International Energy Agency (IEA), produksi minyak diperkirakan naik sekitar 137.000 barel per hari mulai Oktober, seiring dengan kebijakan OPEC+ yang mencabut sebagian pembatasan output. Kondisi ini diperparah dengan peningkatan produksi dari Amerika Serikat, Kanada, Brasil, dan Guyana, yang menimbulkan kekhawatiran penumpukan stok di pasar global.
Di sisi lain, permintaan masih menunjukkan kelemahan. Konsumsi energi di Amerika Serikat dan Tiongkok—dua pasar terbesar dunia—cenderung melambat, sementara data inventori menunjukkan stok bensin dan distilat AS mulai meningkat. Hal ini mengindikasikan bahwa musim puncak permintaan telah terlewati.
Meski begitu, ketegangan geopolitik tetap menjadi penopang harga. Serangan drone terhadap kilang dan terminal energi di Rusia menimbulkan kekhawatiran pasokan terganggu, meskipun dampak langsung terhadap produksi global belum signifikan.
Pasar juga menunggu arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Jika The Fed mempertahankan suku bunga tinggi, prospek pertumbuhan ekonomi dan konsumsi energi bisa semakin tertekan. Sebaliknya, sinyal pelonggaran suku bunga atau stimulus dari Tiongkok berpotensi mengangkat kembali outlook permintaan minyak.
Dengan kondisi tersebut, harga minyak diperkirakan akan bergerak dalam tekanan jangka pendek akibat surplus pasokan, namun tetap sensitif terhadap perkembangan geopolitik dan kebijakan ekonomi global.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id