Perak Bertahan di Atas Level US$41, Pasar Tunggu Sinyal Breakout atau Koreksi
Harga perak masih kokoh di atas level US$41 per ons dan mendekati titik tertinggi dalam 14 tahun. Reli logam putih ini didorong kombinasi faktor fundamental, mulai dari ekspektasi pelonggaran moneter AS, lonjakan permintaan industri, hingga defisit pasokan global.
Data terbaru menunjukkan pelemahan harga produsen AS (PPI) meningkatkan keyakinan pasar bahwa Federal Reserve akan segera memangkas suku bunga. Kondisi ini membuat perak, bersama emas, semakin menarik sebagai aset lindung nilai.
Menurut laporan HSBC, proyeksi harga rata-rata perak 2025 dinaikkan menjadi US$35,14 per ons, dengan defisit pasokan global diperkirakan mencapai 206 juta ons tahun ini. Kenaikan harga emas yang kuat, ketegangan geopolitik, dan permintaan perak sebagai safe haven turut memperkuat reli.
Selain itu, permintaan industri dari sektor energi terbarukan, panel surya, dan elektronik terus meningkat. Sejak awal tahun, harga perak telah naik sekitar 33%, mencatat performa terbaik dalam lebih dari satu dekade.
Teknikal: Level US$41,45 Jadi Penentu Tren
Meski fundamental mendukung tren bullish, teknikal menunjukkan pasar menghadapi ujian di sekitar resistance krusial US$41,50 per ons. Jika berhasil menembus dan bertahan di atas level tersebut, perak berpotensi melanjutkan kenaikan lebih tinggi.
Namun, jika gagal, koreksi bisa menyeret harga kembali ke area support di US$40,60 – US$40,30 per ons.
Kenaikan harga perak hari ini mencerminkan kombinasi kuat antara permintaan industri yang solid, defisit pasokan global, serta ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter AS. Namun, level resistance US$41,45 menjadi titik krusial yang menentukan apakah reli berlanjut atau pasar masuk fase konsolidasi.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id