• Sat, Jan 17, 2026|
  • JKT --:--
  • TKY --:--
  • HK --:--
  • NY --:--

Indonesia News Portal for Traders | Financial & Business Updates

8 September 2025 10:40  |

OPEC+ Naikkan Produksi Bertahap, Risiko Oversupply Bayangi Pasar

Harga minyak dunia bergerak menguat tipis pada perdagangan Senin (8/9), didukung keputusan OPEC+ yang menaikkan produksi dengan laju lebih lambat. Namun, proyeksi surplus pasokan global masih membayangi pasar dan menekan prospek harga ke depan.

Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya (OPEC+) memutuskan menambah produksi sebesar 137.000 barel per hari mulai Oktober. Keputusan ini dinilai sebagai langkah kompromi: menjaga pangsa pasar tanpa mengguncang harga.

Pasar merespons dengan kenaikan tipis harga. Brent ditutup di kisaran US$66,25 per barel dan WTI di US$62,,59 per barel. “Kenaikan produksi dilakukan lebih hati-hati, mengingat beberapa negara anggota sudah mendekati batas kapasitasnya,” tulis laporan Financial Times.

Meski harga saat ini masih stabil di atas US$60, sejumlah lembaga riset memperingatkan tren pelemahan ke depan. S&P Global Commodity Insights memperkirakan Brent turun ke sekitar US$55 per barel menjelang akhir 2025, sementara EIA bahkan memproyeksikan rata-rata hanya US$58 per barel di kuartal IV dan bisa mencapai US$50 per barel di awal 2026.

Faktor utama penekanan harga adalah potensi surplus produksi global lebih dari 2 juta barel per hari, seiring langkah OPEC+ dan tambahan suplai dari produsen besar lainnya.

Dari sisi permintaan, pertumbuhan global diperkirakan tidak mampu menyerap lonjakan pasokan. Badan Energi Internasional (IEA) memproyeksikan permintaan hanya naik sekitar 680 ribu barel per hari sepanjang 2025, jauh lebih rendah dari tambahan suplai sekitar 2,5 juta barel per hari.

Namun, ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan pembelian agresif China untuk cadangan strategisnya disebut masih berpotensi memberikan penopang harga dalam jangka pendek.

Secara keseluruhan, fundamental minyak mengarah pada tren bearish di sisa tahun ini. Meskipun harga hari ini sedikit menguat, prospek jangka menengah tetap dibayangi risiko oversupply. Dari sisi teknikal, harga Brent saat ini menghadapi resistance kuat di area US$67,00–68,00, sementara support terdekat berada di US$61,50. Selama harga bergerak di bawah US$68,00, tren jangka pendek masih cenderung melemah dengan potensi uji ulang ke zona US$60,00–61,00.(mrv)

Sumber : Newsmaker.id

Related News

ANALYSIS & OPINION

Sikap Hati-Hati Investor Lemahkan Emas

Para pejabat The Fed tadi malam mengatakan bahwa mereka masih tetap bersabar untuk mempertahankan suku bunga di kisaran 4,25%...

29 May 2025 09:18
ANALYSIS & OPINION

6 Poin Deklarasi KTT BRICS di Rusia: 'Tekan' Dolar-Perang Ti...

Negara-negara BRICS menyetujui komunike bersama pada Rabu (23/10/2024) selama pertemuan puncak tiga hari kelompok tersebut di...

25 October 2024 22:58
ANALYSIS & OPINION

Semua Langkah Kebijakan Trump Berikan Dorongan Untuk Logam K...

Donald Trump yang resmi dilantik sebagai Presiden Amerika Serikat pada tanggal 20 Januari 2025 lalu telah merealisasikan bebe...

7 February 2025 09:28
ANALYSIS & OPINION

Amerika Berencana Jual Cadangan Emasnya, Apa Bisa Picu Korek...

Berita mengejutkan datang dari Amerika disaat mentri perdagangan mereka Scott Bessent diberitakan mencoba untuk merevaluasi k...

21 February 2025 10:12
BIAS23.com NM23 Ai