Ketegangan Geopolitik vs Ancaman Surplus, Siapa Menang?
Brent bergerak stabil dengan kecenderungan sedikit menurun pada perdagangan hari ini, berada di kisaran USD 67,24–67,32 per barel. Setelah anjlok lebih dari 2% pada sesi sebelumnya akibat aksi ambil untung, penguatan kali ini didorong oleh ketegangan geopolitik dan kekhawatiran pasar terhadap kebijakan tarif baru Amerika Serikat.
Menurut laporan Reuters, investor saat ini fokus pada dua isu besar: potensi dampak tarif impor AS terhadap India dan konflik yang terus memanas di Ukraina.
Tarif AS terhadap India: Pemerintah Amerika Serikat menetapkan tarif impor hingga 50% terhadap sejumlah barang dari India. Kebijakan ini memicu ketidakpastian pasokan global, mengingat India merupakan importir besar minyak Rusia.
Ketegangan Ukraina–Rusia: Situasi konflik yang belum mereda mendorong kekhawatiran gangguan distribusi energi, memberikan sentimen positif terhadap harga minyak.
Meski demikian, faktor jangka panjang justru menekan optimisme pasar. Goldman Sachs dalam laporannya memperkirakan harga Brent berpotensi turun ke level low-$50 per barel pada akhir 2026. Prediksi ini didasari ekspektasi kelebihan pasokan global hingga 1,8 juta barel per hari dan peningkatan cadangan minyak sebesar ±800 juta barel.
Level Penting berada di 66,44 dan 68,17
Dari sisi teknikal, indikator di berbagai kerangka waktu menunjukkan sinyal strong buy, didukung oleh posisi moving averages yang masih berada dalam tren positif.
Support terdekat: USD 66,44 – USD 65,59
Resistance utama: USD 67,10 – USD 68,17, dengan MA 200 hari di sekitar USD 69,13
Jika harga mampu menembus level resistance USD 68, potensi penguatan ke area USD 70 terbuka lebar. Sebaliknya, penurunan di bawah USD 65 dapat memicu koreksi lebih dalam.
Dalam jangka pendek, pasar minyak berpotensi tetap volatil dengan kecenderungan bullish berkat faktor geopolitik. Namun, proyeksi surplus pasokan dan perlambatan ekonomi global menjadi ancaman bagi tren naik dalam jangka menengah hingga panjang.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id