Dari Oversold ke Overpower! Harga Perak Melonjak Kembali Melonjak di Sesi Asia
Harga perak naik tajam pada perdagangan Rabu (5 November 2025) di sesi Asia, melanjutkan tren positif setelah beberapa hari tekanan akibat penguatan dolar AS. Penguatan ini didorong oleh lonjakan permintaan industri dari Asia, serta kembalinya minat investor terhadap aset lindung nilai.
Permintaan fisik perak dari sektor industri menjadi pendorong utama kenaikan harga. Asia, khususnya Tiongkok dan India, menunjukkan peningkatan signifikan dalam penggunaan perak untuk kebutuhan industri, seperti panel surya, semikonduktor, serta komponen kendaraan listrik.
Menurut data Silver Institute, konsumsi industri perak di kawasan Asia mencapai rekor tertinggi sejak 2019. “Lonjakan produksi panel surya dan ekspansi manufaktur semikonduktor di Asia telah memperkuat dasar permintaan perak,” tulis lembaga tersebut dalam laporan kuartal terbarunya.
Ketidakpastian geopolitik dan kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi global juga membuat investor beralih ke aset lindung nilai seperti emas dan perak. Kondisi ini semakin diperkuat oleh aksi short covering—di mana pelaku pasar yang sebelumnya membuka posisi jual menutup posisinya, sehingga mendorong harga naik lebih cepat.
Menurut laporan Business Insider, sejumlah hedge fund besar mulai mengurangi posisi short mereka terhadap perak sejak awal pekan, setelah harga logam putih ini bertahan di atas area support teknikal penting di US$47.00 per troy ounce.
Secara teknikal, harga perak kini bergerak di kisaran US$47.20–US$47.80 per troy ounce, naik sekitar 1% di sesi Asia pagi ini. Analis Economies.com mencatat bahwa perak telah menembus moving average jangka menengah dan menunjukkan sinyal bullish baru di atas resistance US$47.50.
Jika harga mampu menembus US$48.00, maka potensi penguatan ke area US$49.20–US$50.00 terbuka lebar. Namun, jika dolar AS kembali menguat di sesi Eropa malam nanti, tekanan koreksi masih mungkin terjadi.
Secara keseluruhan, penguatan harga perak hari ini mencerminkan kombinasi antara dukungan fundamental yang kuat dari sektor industri dan ekspektasi kebijakan moneter yang lebih longgar di AS. Meski begitu, pasar tetap waspada terhadap rilis data tenaga kerja AS pada akhir pekan yang dapat memengaruhi arah suku bunga The Fed ke depan.
“Pasar perak saat ini berada di fase penyesuaian yang sehat, dengan potensi bullish masih dominan selama tekanan dari dolar AS tidak terlalu kuat,” kata analis MarketChronicle Journal.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id