
Trending

Dolar AS
Sumber: Newsmaker.id
Indeks dolar AS melemah pada perdagangan Senin (31/8) meski mendapat sederet katalis yang biasanya mendukung penguatan greenback. Dollar Index (DXY) turun sekitar 0,14% ke 99,54, setelah sebelumnya menyentuh 99,73, level tertinggi sejak 17 Agustus.
Tekanan terhadap dolar terlihat menarik karena kondisi pasar sebenarnya cukup mendukung. Serangan baru AS terhadap Iran mendorong harga minyak naik lebih dari 2%, yield Treasury meningkat, sementara komentar hawkish Ketua Federal Reserve Kevin Warsh membuat probabilitas kenaikan suku bunga September melonjak menjadi sekitar 64%, dari sekitar 35% sebelum pidato Jackson Hole.
Namun, masalah bagi dolar adalah The Fed tidak menjadi satu-satunya bank sentral yang semakin hawkish. Kenaikan harga minyak kembali meningkatkan kekhawatiran inflasi global dan mendorong yield obligasi di Eropa serta Jepang ke level tertinggi dalam beberapa tahun. Kondisi tersebut membuat pasar ikut meningkatkan ekspektasi pengetatan kebijakan ECB dan Bank of Japan.
ECB kini diperkirakan menaikkan suku bunga pada pertemuan 9–10 September, bahkan sejumlah pembuat kebijakan menilai kenaikan tambahan diperlukan untuk mengendalikan dampak kenaikan harga energi. Sementara itu, Bank of Japan juga semakin dekat dengan kenaikan suku bunga September setelah tekanan inflasi dan pelemahan yen meningkat.
Kondisi tersebut mengurangi keunggulan suku bunga dolar. Ketika pasar memperkirakan The Fed, ECB, dan BoJ sama-sama bergerak lebih ketat, dolar tidak otomatis mendapatkan premi tambahan. Hal inilah yang membantu euro dan yen menahan tekanan meski ekspektasi kenaikan suku bunga AS meningkat.
Tekanan dolar juga masih berkaitan dengan kekhawatiran pasar terhadap fiskal AS. Sejak Departemen Keuangan AS memperbesar program buyback obligasi jangka panjang pada Agustus, perhatian investor bergeser dari sekadar kebijakan The Fed menuju suplai Treasury, utang pemerintah, dan risiko fiskal jangka panjang. Bahkan ketika yield naik pada Senin, dolar justru melemah, menunjukkan bahwa kenaikan imbal hasil belum sepenuhnya menjadi katalis positif bagi greenback.
Pergerakan safe haven juga memperlihatkan dinamika yang tidak biasa. Ketegangan AS–Iran kembali meningkat, tetapi dolar gagal mendapatkan permintaan besar sebagai aset perlindungan. Sebaliknya, emas masih mencatat kenaikan sekitar 9,6% sepanjang Agustus, menjadi salah satu performa bulanan terbaiknya tahun ini.
Fokus pasar kini beralih ke rangkaian data ekonomi AS pekan ini. Data tenaga kerja Agustus menjadi perhatian utama, dengan konsensus terbaru ekonom Reuters memperkirakan Nonfarm Payrolls bertambah sekitar 55.000 pekerjaan setelah terjadi penurunan lapangan kerja pada Juli. Data tenaga kerja yang jauh lebih kuat dari perkiraan berpotensi kembali mengangkat ekspektasi kenaikan suku bunga dan membantu dolar.
Analisis Newsmaker: pelemahan dolar di tengah komentar hawkish Warsh, kenaikan yield, lonjakan minyak, dan eskalasi geopolitik menunjukkan bahwa pasar sedang mempertanyakan keunggulan relatif greenback. Selama ECB dan BoJ juga diperkirakan menaikkan suku bunga serta kekhawatiran fiskal AS tetap tinggi, ruang penguatan DXY berpotensi terbatas. Untuk mengubah kondisi tersebut, dolar membutuhkan kejutan positif dari data ekonomi AS—terutama laporan tenaga kerja pekan ini. (arl)
Sumber : Newsmaker.id