
Trending

Dolar AS
Sumber: Newsmaker.id
Dolar AS bergerak melemah pada perdagangan Senin (31/8) setelah investor mulai mengevaluasi kembali prospek kebijakan Federal Reserve menyusul pernyataan hawkish Ketua The Fed Kevin Warsh di Jackson Hole. Indeks dolar Bloomberg sempat turun sekitar 0,2%, memangkas sebagian kenaikan 0,4% yang dicatat pada Jumat. Meski menguat tajam pada pekan lalu, indeks tersebut masih berada di jalur penurunan sekitar 0,7% sepanjang Agustus.
Pasar masih mencerna pernyataan Warsh yang menegaskan bahwa tekanan harga belum menunjukkan perlambatan yang berarti. Pernyataan tersebut sebelumnya mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan September dan membawa dolar mencatatkan pekan terbaiknya dalam lebih dari dua bulan. Namun, sebagian investor masih meragukan apakah The Fed benar-benar akan menaikkan suku bunga dalam waktu dekat. Pasar saat ini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga September sedikit lebih besar dibandingkan peluang untuk mempertahankan suku bunga.
Perhatian pasar kini beralih ke serangkaian data ekonomi AS pekan ini, terutama laporan ketenagakerjaan yang akan menjadi petunjuk penting berikutnya mengenai arah kebijakan The Fed. Imbal hasil Treasury AS tenor dua tahun, yang sensitif terhadap perubahan ekspektasi kebijakan moneter, turun sekitar dua basis poin ke kisaran 4,32%. USD/JPY turut melemah sekitar 0,3% ke area 159,63 karena yen mendapatkan ruang untuk menguat.
Dari Jepang, produksi industri naik 0,1% secara bulanan pada Juli, melanjutkan kenaikan selama empat bulan berturut-turut dan melampaui perkiraan pasar yang sebelumnya memperkirakan kontraksi 0,7%. Data tersebut menunjukkan sektor manufaktur Jepang masih cukup tangguh meskipun menghadapi tekanan dari konflik Timur Tengah dan kenaikan biaya operasional.
Di pasar valuta asing lainnya, AUD/USD melemah sekitar 0,1% ke 0,7159, sementara EUR/USD naik sekitar 0,1% menuju 1,1598. Euro mendapat dukungan setelah sejumlah data inflasi regional Jerman menunjukkan tekanan harga masih meningkat menjelang rilis inflasi nasional. Inflasi di negara bagian Hesse, misalnya, meningkat menjadi 3,0% pada Agustus dari 2,7% pada Juli, terutama akibat kenaikan harga energi.
Analisa Newsmaker: Pelemahan dolar pada awal pekan lebih terlihat sebagai aksi koreksi setelah penguatan tajam pasca-Jackson Hole, bukan perubahan tren fundamental secara penuh. Bias dolar masih berpotensi kembali menguat apabila data tenaga kerja dan inflasi AS mendukung pandangan bahwa The Fed perlu menaikkan suku bunga. Sebaliknya, apabila data ketenagakerjaan menunjukkan pelemahan signifikan, keraguan terhadap kenaikan suku bunga September dapat meningkat dan membuka ruang koreksi dolar lebih dalam.(yds)
Sumber: Newsmaker.id