
Trending

audusd
Sumber: Newsmaker.id
Dolar Australia bergerak relatif stabil di kisaran US$0,70 pada perdagangan Selasa (27/10/2026), bertahan dekat level tertinggi dalam empat minggu terakhir. Penguatan mata uang Australia masih didukung ekspektasi bahwa Reserve Bank of Australia (RBA) berpotensi kembali menaikkan suku bunga untuk mengendalikan inflasi. Pelaku pasar kini menantikan laporan indeks harga konsumen (CPI) kuartal ketiga yang dijadwalkan rilis pada Rabu (28/10), sebagai petunjuk utama arah kebijakan moneter berikutnya.
Inflasi inti Australia pada kuartal ketiga diperkirakan meningkat sekitar 1,0% secara kuartalan, sementara tingkat tahunan diproyeksikan bertahan di kisaran 3,6%. Angka tersebut masih melampaui target inflasi RBA sebesar 2%–3%, sehingga memperkuat kekhawatiran bahwa tekanan harga belum sepenuhnya terkendali. Kondisi ini menjadi tantangan bagi bank sentral yang telah menaikkan suku bunga sebanyak empat kali sepanjang tahun, tetapi masih menghadapi risiko kenaikan harga energi dan biaya produksi.
Perhatian investor juga tertuju pada Gubernur RBA Michele Bullock bersama sejumlah pejabat senior yang dijadwalkan memberikan keterangan di hadapan anggota parlemen bersamaan dengan publikasi data inflasi. Pasar akan mencermati pandangan mereka mengenai perkembangan harga konsumen serta kemungkinan pengetatan kebijakan lanjutan. Pernyataan bernada hawkish berpotensi memperkuat dolar Australia, terutama apabila data CPI menunjukkan tekanan inflasi yang lebih tinggi dibandingkan perkiraan.
Saat ini, pelaku pasar memperhitungkan peluang sekitar 66% bahwa RBA akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 4,85% pada pertemuan 3 November mendatang. Jika terealisasi, langkah tersebut akan menjadi kenaikan kelima sepanjang 2026 dan berpotensi menandai puncak siklus pengetatan moneter. Namun, ketidakpastian masih cukup tinggi karena kenaikan biaya pinjaman juga berisiko memperlambat konsumsi rumah tangga serta aktivitas ekonomi Australia.
Ke depan, arah pergerakan dolar Australia akan sangat bergantung pada hasil inflasi kuartal ketiga dan perbedaan kebijakan moneter antara RBA dengan Federal Reserve (The Fed). Jika inflasi Australia lebih tinggi dari perkiraan dan RBA memperkuat sinyal kenaikan bunga, pasangan AUD/USD berpeluang melanjutkan penguatan. Sebaliknya, data inflasi yang lebih rendah atau penguatan dolar AS akibat sikap hawkish The Fed dapat membatasi kenaikan Aussie. Dengan AUD/USD berada di sekitar US$0,70, keputusan RBA dan The Fed berpotensi menjadi penentu arah pergerakan mata uang Australia dalam beberapa pekan mendatang.