Saham Jepang Catatkan Rekor Setelah Kesepakatan Damai AS-Iran
Saham Jepang menguat tajam pada Kamis, dengan Nikkei 225 naik 1,8% ke atas 71.000 dan Topix menguat 1,6% ke 4.078. Kedua indeks mencapai rekor tertinggi baru setelah Presiden AS Donald Trump menandatangani kesepakatan sementara untuk mengakhiri konflik dengan Iran dan membuka kembali Selat Hormuz.
Kesepakatan tersebut meredakan kekhawatiran terhadap ekonomi Jepang, yang sangat bergantung pada impor energi dari Timur Tengah. Pembukaan kembali Hormuz dipandang dapat membantu menstabilkan pasokan energi dan mengurangi tekanan biaya bagi perusahaan maupun konsumen Jepang.
Penguatan saham Jepang juga terjadi meski Wall Street melemah semalam setelah Federal Reserve memberi sinyal bahwa dukungan terhadap kenaikan suku bunga tahun ini meningkat. Hal ini menunjukkan sentimen domestik Jepang lebih banyak ditopang oleh penurunan risiko energi dan optimisme terhadap pemulihan jalur perdagangan Timur Tengah.
Sektor keuangan memimpin reli, dengan Mitsubishi UFJ Financial Group naik 2,8%, Sumitomo Mitsui Financial Group menguat 3,7%, dan Mizuho Financial Group bertambah 2,7%. Kenaikan saham bank mencerminkan ekspektasi bahwa stabilitas ekonomi dan kondisi yield yang lebih tinggi dapat mendukung prospek pendapatan sektor keuangan.
Saham teknologi juga bergerak naik. Kioxia Holdings menguat 3%, Tokyo Electron naik 3,5%, dan SoftBank Group melesat 4,5%. Penguatan ini menunjukkan minat beli tidak hanya terkonsentrasi pada sektor defensif atau keuangan, tetapi juga meluas ke saham pertumbuhan.
Bagi pasar Jepang, transmisi utama datang dari energi, inflasi, dan sentimen risiko. Jika arus minyak melalui Hormuz kembali normal, tekanan biaya impor energi dapat mereda, memberi ruang bagi stabilitas inflasi dan memperbaiki prospek margin korporasi.
Fokus berikutnya tertuju pada implementasi pembukaan Selat Hormuz, arah harga minyak, pergerakan yen, dan respons investor terhadap sinyal hawkish The Fed. Selama risiko energi menurun, saham Jepang berpotensi tetap mendapat dukungan, meski tekanan dari yield global masih perlu dipantau.(mrv)*
Sumber : Newsmaker.id