Dolar Menguat, Konsumen AS Masih Gacor!
Dolar Amerika Serikat kembali menguat pada Kamis (17/7), didorong oleh data penjualan ritel bulan Juni yang naik 0,6%, jauh melampaui ekspektasi 0,1%. Apa artinya? Kenaikan ini memperkuat pandangan bahwa Federal Reserve (The Fed) belum akan menurunkan suku bunga dalam waktu dekat, apalagi di tengah turunnya klaim pengangguran mingguan ke level terendah sejak April. Pasar kini hanya memperkirakan maksimal dua kali pemangkasan suku bunga tahun ini, lebih sedikit dari proyeksi sebelumnya.
Kapan dan di mana hal ini terjadi? Data ini dirilis di Washington DC oleh Biro Sensus AS, dan langsung mengguncang sentimen pasar. S&P 500 dan imbal hasil obligasi AS sempat berfluktuasi, sementara dolar terus menguat sejak awal Juli. “Konsumen kembali berbelanja dan itu menjaga mesin ekonomi tetap hidup,” ujar Chris Zaccarelli dari Northlight Asset Management. Kekuatan belanja konsumen ini disebut sebagai salah satu alasan utama mengapa The Fed bisa menahan suku bunga lebih lama.
Mengapa ini penting? Karena data tersebut menunjukkan ekonomi AS masih cukup kuat di tengah berbagai tekanan, termasuk tarif impor dan spekulasi politik. Presiden Donald Trump sempat mengguncang pasar sehari sebelumnya dengan rumor pemecatan Ketua The Fed Jerome Powell, meskipun akhirnya membantahnya. Di sisi lain, Gubernur The Fed Adriana Kugler menegaskan bahwa suku bunga sebaiknya dipertahankan untuk beberapa waktu karena inflasi mulai bergerak naik akibat tarif.
Bagaimana ke depannya? Meskipun data ritel terlihat positif, beberapa ekonom memperingatkan bahwa kenaikan penjualan bisa jadi lebih karena kenaikan harga, bukan peningkatan permintaan. “Kita masih perlu melihat apakah data inflasi cukup kuat untuk jadi alasan pemangkasan suku bunga di September,” kata Jamie Cox dari Harris Financial. Pasar kini akan terus mencermati data inflasi dan pidato pejabat The Fed untuk petunjuk arah kebijakan selanjutnya.
Sumber: (ayu-newsmaker)