Saham Menguat, Namun Dolar Terkapar di Titik Terendah 2025
Dolar AS merosot ke level terendah 2025 pada Kamis (12/6), sementara Wall Street tetap dekat rekor tertinggi, di tengah kombinasi inflasi yang jinak, ketegangan geopolitik di Timur Tengah, dan kekhawatiran atas stabilitas kesepakatan dagang AS–Tiongkok.
Sementara laporan inflasi konsumen dan produsen AS menunjukkan tekanan harga secara keseluruhan tetap terkendali pada bulan Mei, sebagian besar disebabkan oleh penurunan biaya bensin, mobil dan perumahan, atau jasa seperti transportasi udara. Tetapi sebagian besar ekonom memperkirakan inflasi akan meningkat karena dampak tarif AS mulai terasa.
Dolar, yang telah turun sekitar 10% nilainya terhadap sejumlah mata uang tahun ini, jatuh ke level terendah sejak April 2022.
Saham global melanjutkan reli yang hampir tak terputus sejak awal April, meninggalkan indeks MSCI All-Country World dibuka naik 0,25%, tepat di bawah titik tertinggi sepanjang masa hari Rabu. Aset safe haven klasik mengalami kenaikan.
Untuk Franc Swiss (USDCHF) dan yen Jepang (USDJPY) menguat, mendorong dolar turun 1% terhadap franc dan turun 0,67% terhadap yen, sementara emas naik sekitar 0,9% menjadi $3.382 per ons.
Sementara optimisme yang sempat mengemuka usai pernyataan Presiden Donald Trump tentang tercapainya 'kesepakatan hebat dengan Tiongkok' awal pekan ini, perlahan memudar pada Kamis, seiring memudarnya harapan dari hasil pembicaraan dagang AS-Tiongkok."
Euro (EURUSD) naik 0,74% menjadi $1,15, menyentuh level tertinggi sejak Oktober 2021.(yds)
Sumber: Reuters