Dolar Merosot Pasca Reli Data Pekerjaan; Fokus Pembicaraan AS-Tiongkok
Dolar AS melemah terhadap mayoritas uang utama pada hari Senin (9/6), karena optimisme atas laporan ketenagakerjaan AS yang lebih baik dari perkiraan diimbangi oleh kehati-hatian menjelang pembicaraan perdagangan penting AS-Tiongkok yang akan berlangsung di hari ini
Sementara pejabat tinggi dari kedua negara berada di London untuk menghadiri pertemuan guna membahas ketidaksepakatan seputar perjanjian awal yang dicapai bulan lalu di Jenewa, yang sempat meredam ketegangan antara dua ekonomi terbesar di dunia tersebut.
Pembicaraan tersebut terjadi pada saat yang krusial bagi kedua belah pihak, dengan Tiongkok bergulat dengan deflasi dan ketidakpastian perdagangan yang melemahkan sentimen di antara para pelaku bisnis dan konsumen AS, yang mendorong para investor untuk menilai kembali status safe haven dolar.
Data menunjukkan pertumbuhan ekspor Tiongkok melambat ke level terendah dalam tiga bulan pada bulan Mei karena tarif AS menekan pengiriman, sementara deflasi gerbang pabrik mencapai level terburuknya dalam dua tahun. Data bea cukai menunjukkan bahwa ekspor Tiongkok ke AS anjlok 34,5% tahun-ke-tahun pada bulan Mei dalam hal nilai, penurunan paling tajam sejak Februari 2020, ketika merebaknya pandemi COVID-19 menjungkirbalikkan perdagangan global.
Dolar turun sekitar 0,2% terhadap mata uang Jepang pada 144,635 yen pada perdagangan sore setelah dua minggu berturut-turut mengalami kenaikan.
Sementara itu, euro sedikit naik terhadap greenback pada $1,1404, karena pasar terus memperhitungkan prospek kebijakan moneter Bank Sentral Eropa yang dikeluarkan minggu lalu, yang mengindikasikan bahwa bank sentral mungkin akan segera mengakhiri siklus pelonggarannya.
Poundsterling juga naik terhadap greenback, naik 0,3% menjadi $1,3558.
Dolar Selandia Baru naik 0,5% menjadi US$0,6045, sementara dolar Australia terakhir naik 0,3% pada US$0,6515 dalam volume yang ringan karena pasar tutup untuk hari libur nasional.(yds)
Sumber: Reuters