Dolar Melemah Tipis, Pasar Timbang Risiko AS-Iran dan Data NFP
Dolar AS melemah tipis pada Jumat (8/5) ketika konflik AS-Iran kembali memanas, meski Presiden Donald Trump menyatakan gencatan senjata masih berlaku. Indeks dolar (DXY) turun 0,14% ke 98,195, setelah sempat menyentuh 97,623 awal pekan ini, level terendah sejak 27 Februari, sehari sebelum perang dimulai.
Pasar menilai kenaikan harga minyak masih terbatas, sehingga optimisme kehati-hatian tetap terbentuk terhadap peluang de-eskalasi. Sejumlah analis juga menyoroti posisi pasar yang kembali mendekati rata-rata historis, membuat dukungan teknikal terhadap dolar tidak sekuat beberapa pekan lalu. Dalam konteks risk sentiment, komentar strategis menekankan bahwa reaksi ekuitas berpotensi lebih menentukan arah dolar dibanding volatilitas minyak, sementara pasar menunggu sinyal dari pembicaraan AS-Iran yang disebut masih berlanjut.
Di pasar utama, euro naik 0,16% ke US$1,1743 dan berpeluang menutup pekan sedikit lebih kuat. Yen relatif stabil, dengan USD/JPY nyaris tidak berubah di 156,85, seiring pelaku pasar tetap memperhitungkan risiko intervensi dan pernyataan keras dari otoritas Tokyo yang menegaskan koordinasi intensif serta ruang intervensi yang luas untuk menahan pelemahan yen.
Fokus berikutnya beralih ke rilis non-farm payrolls AS pada Jumat, yang dipandang berpotensi mengubah persepsi volatilitas dolar jika hasilnya menyimpang signifikan, khususnya jika jauh lebih lemah.
Untuk mata uang G10 lainnya, sterling naik 0,26% ke US$1,3584 setelah hasil pemilu lokal Inggris sejauh ini mengonfirmasi ekspektasi pelemahan signifikan Partai Labour, sementara dolar Australia di US$0,7221 dan dolar Selandia Baru di US$0,5943 sama-sama berada di jalur menguat mingguan menyusul membaiknya selera risiko pada hari-hari sebelumnya.
Sumber: Newsmaker.id