Dolar Menguat Tipis, Pasar Pantau Hormuz dan Manuver The Fed
Indeks dolar AS berbalik menguat tipis pada Rabu (22/4), ditopang permintaan safe haven setelah meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz menyusul serangan Iran terhadap kapal-kapal, meski perpanjangan gencatan senjata AS–Iran memberi sedikit ruang lega bagi pasar. Pada 15:15 ET, DXY naik 0,2% ke 98,59.
Dolar sempat melonjak pada Maret karena investor menilai AS sebagai eksportir energi besar lebih terlindungi dari guncangan pasokan akibat gangguan Hormuz, dan karena ekspektasi suku bunga “higher for longer” ikut menguat. Namun greenback kini kembali mendekati level pra-perang seiring sebagian analis menilai puncak gejolak geopolitik mungkin telah lewat, walau risiko belum hilang.
Trump pada Selasa memperpanjang gencatan senjata dua pekan yang semula berakhir Rabu sampai Iran dapat menyusun proposal negosiasi yang “terpadu”. Tetapi Iran belum mengumumkan posisi resmi soal perpanjangan itu, dan media pemerintah menyebut Teheran memutuskan tidak ikut putaran baru pembicaraan dengan AS. Ketegangan di lapangan tetap tinggi setelah laporan menyebut sedikitnya tiga kapal diserang IRGC dekat Hormuz.
Dolar juga mendapat sorotan dari dinamika The Fed pasca sidang Kevin Warsh, kandidat Trump untuk menggantikan Jerome Powell, yang menegaskan tidak berjanji akan memangkas suku bunga dan menekankan independensi bank sentral. Namun jadwal persetujuan Senat masih tidak pasti di tengah sinyal politis di Kongres.
Di mata uang utama lain, EUR/USD turun 0,3% ke US$1,1708 seiring kepercayaan konsumen zona euro melemah, sementara GBP/USD relatif datar di US$1,3506 di tengah dampak lonjakan minyak pada inflasi headline Inggris yang lebih besar dibanding inflasi inti.(Arl)*
Sumber: Newsmaker.id