Euro-Pound Stabil, Dolar Kehilangan Premi Perang
Dolar AS menuju penurunan mingguan kedua beruntun pada Jumat (17/4), seiring investor melepas posisi safe haven setelah gencatan senjata 10 hari Israel–Lebanon mulai berlaku dan muncul prospek pembicaraan baru AS–Iran akhir pekan ini. Indeks dolar (DXY) turun tipis 0,02% ke 98,185, mencerminkan kembalinya selera risiko meski harga energi masih menjaga kekhawatiran inflasi.
Euro stabil di US$1,178225 dan berada di jalur kenaikan mingguan ketiga, sementara poundsterling datar di US$1,35225—keduanya telah memangkas pelemahan yang sempat dipicu konflik Iran dan kembali mendekati level tertinggi tujuh pekan. Dolar terhadap yen juga cenderung stabil di 159,225, setelah Gubernur BoJ Kazuo Ueda menghindari sinyal kenaikan suku bunga dalam waktu dekat, memperbesar peluang jeda setidaknya hingga Juni. Mata uang berisiko bertahan kuat, dengan dolar Australia di US$0,71710 dekat level tertinggi empat tahun dan kiwi di US$0,5887.
Sorotan tetap pada Iran. Para negosiator AS dan Iran disebut menurunkan ambisi dari kesepakatan damai komprehensif menjadi memorandum sementara untuk mencegah konflik berulang, dengan isu nuklir masih menjadi hambatan utama. Arah dolar dan FX kini sangat dipengaruhi headline geopolitik karena pasar menilai seberapa jauh de-eskalasi bisa benar-benar bertahan.
Di pasar suku bunga, imbal hasil Treasury cenderung stabil setelah naik pada sesi sebelumnya: yield 2 tahun 3,7732% dan 10 tahun 4,3054%. Pasar kini bertaruh The Fed akan menahan suku bunga tahun ini, berbalik dari ekspektasi dua kali pemangkasan sebelum perang. Kekhawatiran inflasi tetap hidup karena minyak masih tinggi, namun data klaim pengangguran AS yang turun lebih dari perkiraan mengindikasikan pasar tenaga kerja masih stabil—memberi Fed ruang untuk tetap “wait and see” sambil memantau dampak inflasi energi.
Ke depan, pasar akan memantau kelanjutan pembicaraan AS–Iran, implementasi gencatan senjata Israel–Lebanon, pergerakan harga energi, serta sinyal bank sentral (termasuk ECB yang menilai butuh lebih banyak data sebelum mempertimbangkan kenaikan, dan G7 yang menyatakan siap bertindak merespons risiko inflasi dan ekonomi dari guncangan energi. (Arl)*
Sumber: Newsmaker.id