Dolar Menguat Tipis, Pasar Uji Sinyal Negosiasi AS–Iran dan Risiko Hormuz
Dolar AS menguat tipis pada Kamis (16/4), namun tetap berada di dekat level terendah sejak Maret, ketika pasar mencerna derasnya pernyataan terkait peluang negosiasi damai AS–Iran. Pada 08:54 ET, indeks dolar naik 0,1% ke 98,17. Euro melemah 0,2% ke US$1,1781 dan pound turun 0,2% ke US$1,3546.
Mediator disebut terus mendorong penghentian permusuhan permanen menjelang berakhirnya gencatan senjata dua pekan pada akhir bulan ini. Wall Street Journal melaporkan AS dan Iran telah sepakat secara prinsip untuk menggelar pembicaraan baru setelah putaran awal negosiasi di Pakistan akhir pekan lalu belum menghasilkan kesepakatan, meski waktu dan lokasi pertemuan belum ditetapkan. JD Vance disebut akan memimpin delegasi AS dalam pembahasan berikutnya.
Di sisi lain, friksi tetap menonjol, terutama soal blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran. Seorang komandan militer senior Iran memperingatkan Washington agar tidak melanjutkan blokade, sementara US Central Command mengklaim tak ada kapal komersial atau tanker terkait Iran yang berhasil menghindarinya. Ketua Gabungan Kepala Staf AS Jenderal Dan Caine menegaskan blokade hanya berlaku untuk pelabuhan dan garis pantai Iran, bukan untuk Selat Hormuz.
Harga minyak bertahan di bawah US$100 per barel saat pelaku pasar menilai dampak tersendatnya arus energi, dengan Hormuz disebut hampir tertutup bagi tanker selama beberapa pekan. Pada fase awal perang akhir Februari, minyak sempat melonjak mendekati US$120 per barel dan memicu kekhawatiran inflasi yang dapat menekan pertumbuhan. Saat itu, dolar sempat diburu sebagai aset aman, didukung narasi bahwa status AS sebagai eksportir energi besar bisa membuat ekonomi lebih tahan terhadap hambatan pengiriman. Namun ketika selera risiko mulai pulih, indeks dolar melemah dan kini hanya sedikit di atas level pra-perang.
Dalam kondisi ini, mata uang yang sensitif terhadap risiko ikut mendapat dorongan, dengan dolar Australia dilaporkan menguat ke level tertinggi empat tahun, menegaskan pergeseran sentimen pasar dari mode defensif ke risk-on yang masih rapuh. (Arl)*
Sumber : Newsmaker.id