Safe Haven Unwind Berlanjut, Dolar Dekati Level Februari
Dolar AS melemah ke level terendah enam pekan pada Rabu (15/4), hampir menghapus seluruh penguatan sejak perang Iran pecah, setelah muncul sinyal pembicaraan baru Washington–Teheran yang mengangkat selera risiko dan mengurangi permintaan dolar sebagai safe haven. Trump mengatakan negosiasi bisa kembali digelar di Pakistan dalam beberapa hari, meski blokade AS atas pelabuhan Iran tetap berjalan usai perundingan akhir pekan gagal menghasilkan terobosan.
Pasar tetap menilai Selat Hormuz sebagai pusat risiko. Teheran secara efektif menutup jalur yang biasanya menyalurkan sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas global sejak 28 Februari, memicu lonjakan energi dan kekhawatiran terhadap pertumbuhan serta inflasi. Euro bertahan di sekitar US$1,1786 mendekati level tertinggi sejak awal Maret, sementara sterling sekitar US$1,356. Indeks dolar kembali ke level saat perang dimulai, setelah sempat naik hingga sekitar 3% pada awal Maret; dolar kini turun hampir 2% bulan ini seiring optimisme gencatan senjata.
Fokus investor beralih ke dampak ekonomi dari energy shock. Harga crude fisik disebut masih di atas US$140/barel meski futures kembali di bawah US$100, sementara IMF memangkas outlook pertumbuhan dan memperingatkan skenario lebih buruk dapat mendorong ekonomi global mendekati resesi, dengan minyak rata-rata US$110 pada 2026 dan US$125 pada 2027. Di sisi kebijakan, lonjakan energi membuat pasar kembali mempertimbangkan potensi kenaikan suku bunga ECB/BoE tahun ini, sekaligus meragukan ruang pemangkasan Fed. Mantan Menkeu AS Janet Yellen menilai satu pemangkasan suku bunga Fed masih mungkin, meski tekanan inflasi dari supply shock tetap jadi risiko. (Arl)*
Sumber : Newsmaker.id