Blokade Iran Dimulai, Safe Haven Balik ke Dolar
Dolar AS menguat pada Senin (13/4) setelah pembicaraan damai AS–Iran runtuh dan Angkatan Laut AS bersiap memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran, memicu kembali sentimen risk-off dan mengangkat permintaan aset safe haven. Indeks dolar (DXY) naik 0,16% ke 98,88, dengan EUR/USD turun 0,18% ke US$1,1698. Penguatan ini terjadi setelah dolar mencatat penurunan persentase mingguan terbesar sejak pertengahan Januari.
Katalis utama datang dari energi dan geopolitik. Harga minyak melonjak setelah US Central Command mengatakan blokade mulai berlaku pukul 10.00 ET (14.00 GMT) dan akan ditegakkan “tanpa pandang bulu” terhadap kapal dari semua negara yang masuk/keluar pelabuhan Iran di Teluk dan Teluk Oman. WTI naik 6,94% ke US$103,27/barel dan Brent naik 6,86% ke US$101,73/barel, menempatkan gencatan senjata terbaru dalam posisi semakin rapuh. Sejak akhir Februari, perang di Timur Tengah disebut telah mendorong harga minyak naik sekitar 40%, memperbesar kekhawatiran kombinasi inflasi lebih tinggi dan perlambatan pertumbuhan global.
Di mata uang berisiko, AUD/USD turun 0,21% ke 0,7045 dan NZD/USD turun 0,09% ke 0,5827. Terhadap yen, dolar naik 0,28% ke 159,74 seiring yield obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun naik 3,2 bps ke 2,496%, tertinggi hampir tiga dekade. Gubernur BoJ Kazuo Ueda mengatakan perkembangan ekonomi dan harga berjalan kurang lebih sesuai proyeksi bank sentral, namun menekankan kewaspadaan terhadap dampak konflik Timur Tengah.
Pada saat yang sama, respons mata uang terkait komoditas tidak sepenuhnya searah: dolar melemah 0,47% terhadap krone Norwegia ke 9,488, sementara dolar Kanada menguat tipis 0,01% ke C$1,383 per dolar, menegaskan sensitivitas yang berbeda terhadap pergerakan minyak. Di Eropa Tengah, forint Hungaria menguat setelah partai tengah-kanan Tisza mencatat kemenangan telak atas Viktor Orban, menurut laporan pasar.
Fokus berikutnya tertuju pada detail implementasi blokade, respons Iran dan dinamika arus energi, serta apakah reli minyak bertahan cukup lama untuk mengubah ekspektasi inflasi dan suku bunga. Pasar juga akan memantau pergerakan yield, komentar bank sentral, dan volatilitas mata uang yang dipicu headline geopolitik. (Arl)
Sumber: Newsmaker.id