Dolar Menguat, Minyak Rebound Pasca Negosasi AS–Iran Gagal
Indeks dolar AS (DXY) menguat 0,25% ke sekitar 99,00 pada sesi Eropa hari Senin (13/4), ditopang sentimen risk-off dan kembalinya kekhawatiran bahwa Federal Reserve masih bisa menaikkan suku bunga tahun ini. Penguatan dolar terjadi ketika pasar menilai peluang de-eskalasi kembali mengecil setelah putaran awal pembicaraan AS–Iran dilaporkan gagal.
Kegagalan negosiasi mendorong respons kebijakan dari Washington. Presiden Donald Trump disebut menginstruksikan pemblokiran kapal yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran mulai 13 April pukul 10.00 (14.00 GMT). Langkah tersebut menambah ketidakpastian jalur pasokan energi dan memperkuat permintaan aset aman.
Di pasar energi, harga minyak pulih tajam. WTI naik hampir 8% ke sekitar US$98 per barel, menandakan premi risiko pasokan kembali terpasang setelah pasar sempat meredakan tensi dalam periode gencatan senjata sementara.
Kenaikan minyak berpotensi mengangkat kembali ekspektasi inflasi dan mendorong penyesuaian ulang pada ekspektasi suku bunga The Fed. Pada akhir Maret, pasar sempat mem-price-in dua kali kenaikan suku bunga tahun ini, namun skenario itu sempat menghilang setelah pengumuman jeda konflik dua pekan.
Fokus data berikutnya adalah rilis Producer Price Index (PPI) AS untuk Maret pada Selasa. Inflasi produsen headline diperkirakan naik ke 4,6% (YoY) dari pembacaan sebelumnya 3,4%, yang berpotensi menjadi katalis untuk pergerakan dolar, yield, dan ekspektasi kebijakan moneter. Variabel yang dipantau pasar meliputi implementasi blokade pelabuhan Iran, arah WTI, perkembangan diplomasi, serta sinyal The Fed terkait keseimbangan risiko inflasi dan pertumbuhan. (Arl)
Sumber: Newsmaker.id