Dolar Tertekan, Headline Lebanon dan Hormuz Guncang Sentimen
Dolar AS melemah pada Jumat (10/4) dan berada di jalur penurunan mingguan terbesar sejak Januari, seiring optimisme bahwa gencatan senjata sementara AS–Iran dapat membuka kembali arus minyak melalui Selat Hormuz mendorong pelepasan posisi safe haven. Pada 09:32 ET, indeks dolar (DXY) turun 0,2% ke 98,59 dan tercatat melemah sekitar 1,6% sepanjang pekan.
Euro naik 0,2% ke US$1,1728 dan poundsterling menguat 0,2% ke US$1,3466, sementara dolar Australia dan Selandia Baru juga menuju penguatan mingguan terhadap dolar AS. Pasar juga menilai rilis data harga konsumen AS yang melonjak pada Maret, namun kenaikan ini sudah luas diantisipasi.
Fokus utama tetap pada pembicaraan akhir pekan di Pakistan. Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan negosiasi berpotensi “positif” dan Washington siap “mengulurkan tangan”, tetapi memperingatkan Iran agar tidak “mencoba mempermainkan” tim negosiasi. Di sisi lain, ketahanan ceasefire dipertanyakan karena Israel melanjutkan serangan terhadap Hizbullah di Lebanon, memicu kembali perdebatan apakah Lebanon termasuk dalam kesepakatan. Iran juga memberi sinyal bisa menahan kehadiran dalam negosiasi jika serangan di Lebanon berlanjut.
Sementara itu, pemulihan arus Hormuz belum terlihat. Reuters melaporkan volume pelayaran masih jauh di bawah 10% dari normal pada Kamis, meski ceasefire sudah diumumkan, dan Iran tetap meminta kapal berlayar di perairan teritorialnya. Kombinasi diplomasi yang belum pasti dan kondisi Hormuz yang belum normal membuat dolar tetap sensitif terhadap headline sepanjang akhir pekan. (Arl)
Sumber: Newsmaker.id