Dolar Global Stabil di Tengah Ceasefire Rapuh dan Sikap Hati-Hati The Fed
Dolar AS bergerak cenderung stabil dalam perdagangan terbaru, setelah sebelumnya mengalami pelemahan tajam seiring meredanya kepanikan pasar atas konflik Timur Tengah. Pada Kamis, 9 April 2026, Dollar Index (DXY) tercatat berada di sekitar 99,07, menandakan pasar global masih menahan posisi sambil menilai apakah gencatan senjata yang diumumkan benar-benar bisa bertahan.
Bagi ekonomi global, pergerakan dolar seperti ini sangat penting karena greenback masih menjadi acuan utama dalam perdagangan internasional, pembiayaan utang, arus modal, dan harga banyak komoditas dunia. Saat dolar menguat, banyak negara biasanya menghadapi biaya impor yang lebih tinggi, terutama untuk energi dan bahan baku. Sebaliknya, saat dolar melemah, tekanan itu bisa sedikit berkurang, meski efek akhirnya tetap bergantung pada harga minyak dan kestabilan geopolitik. Reuters melaporkan pasar masih gelisah karena ceasefire dinilai rapuh dan Selat Hormuz tetap menjadi sumber kekhawatiran.
Di sisi lain, dolar juga masih ditopang oleh sikap hati-hati Federal Reserve. Minutes rapat The Fed yang dirilis 8 April menunjukkan semakin banyak pejabat yang mulai terbuka pada kemungkinan kenaikan suku bunga bila inflasi tetap tinggi, terutama jika tekanan harga energi berlanjut. Namun, banyak pejabat juga masih melihat kemungkinan langkah berikutnya justru berupa pemangkasan suku bunga bila pertumbuhan ekonomi melemah dan pasar tenaga kerja melunak. Artinya, dolar saat ini ditahan oleh dua kekuatan sekaligus: risiko inflasi dan risiko perlambatan ekonomi.
Kondisi itu membuat dolar global belum memiliki arah yang benar-benar bersih. Pasar belum sepenuhnya risk-on, tapi juga belum kembali panic mode. Dalam situasi seperti ini, setiap perubahan pada harga minyak, perkembangan ceasefire, atau komentar baru dari pejabat The Fed bisa langsung memicu pergerakan baru pada dolar dan berdampak luas ke aset global lain seperti emas, obligasi, saham, dan mata uang emerging markets. Reuters juga mencatat harga minyak mulai naik lagi pada 9 April karena keraguan terhadap keberlangsungan ceasefire, menandakan tekanan terhadap ekonomi global belum benar-benar hilang.
Secara keseluruhan, pesan pasarnya jelas: dolar global masih dalam fase wait and see. Selama ketidakpastian energi dan arah suku bunga AS belum terjawab, dolar berpotensi tetap bergerak hati-hati. Buat ekonomi global, ini berarti risiko inflasi impor, biaya pendanaan, dan volatilitas pasar keuangan masih perlu diwaspadai dalam jangka pendek.(Zaf)
Sumber: Newsmaker.id