Gencatan Senjata Dua Minggu Tekan DXY, FOMC Jadi Kunci
Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan dolar terhadap sekeranjang enam mata uang utama dunia, melemah dan diperdagangkan di sekitar 99,05 pada sesi Asia, Rabu (8/04). Pelemahan terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menyetujui gencatan senjata selama dua minggu, menyusul sebelumnya ancaman serangan besar-besaran.
Trump menyatakan pada Selasa malam bahwa ia setuju “menangguhkan pemboman dan serangan terhadap Iran selama periode dua minggu” dengan syarat Iran membuka kembali Selat Hormuz. Dari pihak Iran, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menyebut jalur aman di jalur air utama itu akan memungkinkan selama dua minggu melalui koordinasi dengan angkatan bersenjata Iran.
Pasar menilai perkembangan ini berpotensi menurunkan permintaan dolar sebagai aset lindung nilai ketika risiko geopolitik mereda. Namun, pelaku pasar tetap mencermati implementasi gencatan senjata dan dinamika di Selat Hormuz, mengingat kawasan tersebut menjadi jalur strategis yang sensitif terhadap gangguan logistik dan energi.
AS dan Iran dijadwalkan bertemu di Islamabad, Pakistan, pada Jumat untuk merampungkan rincian kesepakatan. Setiap sinyal de-eskalasi lebih lanjut dapat kembali menekan daya tarik dolar sebagai safe haven, sementara tanda-tanda ketegangan yang muncul lagi berisiko mengembalikan permintaan defensif pada aset berdenominasi USD.
Selain faktor geopolitik, fokus pasar beralih ke rilis risalah rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pada Rabu. Dokumen ini dipantau untuk membaca penilaian pejabat Federal Reserve terhadap guncangan energi terbaru terkait konflik di Timur Tengah, yang dapat memengaruhi ekspektasi inflasi serta arah suku bunga.
Nada yang lebih hawkish dari The Fed berpotensi memberi dukungan jangka dekat bagi dolar terhadap mata uang utama lain. Sementara itu, indikator pasar suku bunga menunjukkan overnight-indexed swaps memberi sinyal probabilitas sekitar 40% untuk penurunan suku bunga The Fed hingga akhir tahun, menurut CME FedWatch Tool—menjadikan isi risalah, perkembangan negosiasi di Islamabad, dan kondisi Selat Hormuz sebagai variabel utama yang akan dipantau pasar berikutnya. (asd)
Sumber: Newsmaker.id