• Thu, Mar 26, 2026|
  • JKT --:--
  • TKY --:--
  • HK --:--
  • NY --:--

Market & Economic Intelligence Platform Insight on Macro, Commodities, Equities & Policy

25 March 2026 23:48  |

Dolar Menguat, Risiko Iran dan Inflasi Dorong Permintaan Safe Haven

Dolar AS memperpanjang penguatan terhadap mata uang utama pada Rabu (25/3), ketika pelaku pasar menyoroti tren inflasi global dan tetap skeptis terhadap peluang de-eskalasi cepat perang Iran. Meski ada laporan AS mengirim rencana 15 poin untuk dibahas di Teheran, Israel dan Iran dilaporkan masih saling melancarkan serangan udara.

Indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang enam mata uang, naik 0,23% ke 99,41. Euro melemah 0,19% ke $1,1585, sementara pound sterling turun 0,19% ke $1,3387.

Nada pasar tetap hati-hati setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan ada kemajuan dalam pembicaraan dengan Iran, tetapi Teheran membantah adanya negosiasi langsung. Perbedaan narasi ini menahan minat risiko dan menjaga premi risiko pada dolar.

Dari sisi fundamental, kombinasi geopolitik dan inflasi memperkuat daya tarik dolar. Ketika risiko geopolitik meningkat, dolar cenderung mendapat dukungan sebagai aset lindung nilai, sementara kekhawatiran inflasi menggeser ekspektasi suku bunga AS ke arah lebih ketat. Seorang analis dari Scotiabank, Shaun Osborne, menilai kekuatan dolar menunjukkan pasar valas mengambil pandangan yang “sedikit berbeda” dibanding ekuitas dan obligasi, dan bahwa jika benar ada “jalan keluar” yang jelas, premi pada dolar seharusnya mulai terkoreksi.

Komentar tersebut kontras dengan pergerakan sejumlah aset lain. Saham AS menguat, dengan S&P 500 naik 0,8% pada Rabu. Harga minyak global justru melemah, dengan Brent turun 3,8% ke $100,54 per barel, mengurangi sebagian lonjakan sebelumnya. Di pasar obligasi, imbal hasil US Treasury 10-tahun turun 5,6 basis poin ke 4,336% setelah volatilitas sepekan terakhir.

Di Asia, dolar naik 0,23% terhadap yen ke 159,05. Risalah rapat kebijakan Bank of Japan bulan Januari menunjukkan banyak anggota dewan melihat perlunya terus menaikkan suku bunga, meski tanpa merinci kecepatannya. Dolar Australia melemah 0,39% ke $0,6966 setelah data inflasi Februari menunjukkan kenaikan 3,7% sebelum pecahnya perang Iran, sedikit lebih rendah dari perkiraan analis.

Ekspektasi kebijakan The Fed juga bergeser. Meski pasar masih memperkirakan tidak ada perubahan suku bunga AS tahun ini, peluang pengetatan mulai meningkat. Fed funds futures kini mengindikasikan peluang kecil kenaikan 25 bps pada pertemuan Desember, berbalik dari ekspektasi pemangkasan yang terlihat sepekan sebelumnya berdasarkan FedWatch CME.

Pelaku pasar akan memantau perkembangan konflik Iran-Israel, arah harga minyak dan implikasinya terhadap inflasi, pergerakan imbal hasil AS, serta perubahan harga di pasar futures suku bunga The Fed. Selain itu, sinyal kebijakan Bank of Japan dan rilis inflasi lanjutan di Inggris dan Australia tetap relevan untuk arah pasangan mata uang utama. (Arl)

Sumber : Newsmaker.id

Related News

US DOLLAR

Dollar Sedikit Melemah Setelah Pulih

Dolar memangkas kenaikan hari Senin (12/05), dengan para pedagang tidak yakin bahwa lonjakannya baru-baru ini di balik mereda...

13 May 2025 15:52
US DOLLAR

Dolar Nunggu Sinyal The Fed

Indeks dolar (DXY) bergerak stabil di atas 98 pada Rabu, tapi masih bertahan dekat level terendah dalam lebih dari dua bulan....

17 December 2025 09:14
US DOLLAR

Dolar AS Tutup Tahun Terbaik Sejak 2015 dengan Bias Bullish

Dolar membukukan penurunan moderat pada hari terakhir tahun ini, yang terbaik dalam hampir satu dekade, karena opsi jangka pa...

31 December 2024 17:05
US DOLLAR

Dolar Terus Turun

Indeks dolar jatuh ke 100,3 pada hari Rabu (14/5), semakin merosot dari level tertinggi satu bulan yang dicapai pada hari Sen...

14 May 2025 17:16
BIAS23.com NM23 Ai