Bessent Angkat Suara, Dolar Langsung Bangkit
Dolar AS menguat terhadap euro dan yen pada Rabu (28/1), setelah The Fed memutuskan menahan suku bunga. Bank sentral AS menilai inflasi masih cukup tinggi sementara ekonomi tetap solid, namun pernyataan terbarunya tidak memberi sinyal jelas kapan pemangkasan suku bunga berikutnya bisa terjadi.
Di pasar valuta asing, euro turun sekitar 1% ke $1,19163, sedangkan dolar naik 1,1% terhadap yen ke 153,90. Indeks dolar menguat 0,8% menjadi 96,667, setelah sehari sebelumnya sempat jatuh ke 95,86—level terendah sejak Februari 2022. Pelemahan pada Selasa itu terjadi ketika Presiden Donald Trump menanggapi penurunan dolar bulan ini dengan santai, yang dibaca pasar sebagai lampu hijau untuk tetap agresif menjual dolar menjelang rapat The Fed.
Dari sisi kebijakan, FOMC menegaskan keputusan berikutnya akan bergantung pada data. Mereka menyebut “luas dan waktu penyesuaian tambahan” suku bunga akan ditentukan oleh perkembangan data ekonomi dan prospek ke depan—tanpa memberikan jadwal.
Sesi Rabu juga diwarnai faktor lain: dolar sempat pulih lebih cepat setelah Menteri Keuangan Scott Bessent menegaskan kembali bahwa AS tetap mendukung kebijakan dolar kuat, dan membantah adanya intervensi di pasar mata uang untuk membantu yen Jepang.
Secara keseluruhan, indeks dolar masih turun hampir 2% sepanjang tahun ini, setelah melemah 9,4% tahun lalu. Tekanan terhadap dolar datang dari beberapa arah: ekspektasi penurunan suku bunga yang tetap hidup, ketidakpastian tarif, volatilitas kebijakan termasuk isu independensi The Fed, serta kekhawatiran defisit fiskal yang makin besar—kombinasi yang mengurangi keyakinan investor terhadap stabilitas kebijakan ekonomi AS.
Pada Selasa, volatilitas tersebut sempat membawa euro menembus $1,2 untuk pertama kalinya sejak 2021, pound ke level tertinggi 4,5 tahun, dan yen menuju performa bulanan terkuat sejak April. Pergerakan yen juga ditopang spekulasi potensi koordinasi Jepang–AS untuk mendukung mata uang tersebut.
Di Eropa, penguatan euro justru mulai menjadi perhatian. Dua pejabat ECB menyinggung bahwa euro yang terlalu kuat bisa memengaruhi arah kebijakan moneter. Gubernur bank sentral Austria, Martin Kocher, menyebut ECB bisa mempertimbangkan pemangkasan suku bunga lagi jika penguatan euro mulai mengubah prospek inflasi. Sementara itu, Gubernur bank sentral Prancis, François Villeroy de Galhau, mengatakan pembuat kebijakan memantau apresiasi euro dan potensi dampaknya terhadap inflasi yang lebih rendah.
Menjelang akhir sesi, euro berada di sekitar $1,1907 (turun 1,1%), namun masih dekat dari puncak sebelumnya di $1,2084—level terkuat sejak Juni 2021. (Arl)
Sumber: Newsmaker.id