Dolar Tertahan Dekat Level Terendah 4 Tahun, Komentar Trump Picu Aksi Jual
Dolar AS sedikit stabil pada Rabu (28/1), tetapi masih berada dekat level terendah hampir empat tahun dan mengarah pada penurunan mingguan terbesar sejak April. Pelemahan ini berlanjut setelah Presiden AS Donald Trump terkesan menyepelekan penurunan dolar sepanjang bulan ini—komentar yang dibaca pasar sebagai “lampu hijau” untuk melanjutkan tekanan jual.
Dalam beberapa pekan terakhir, investor terlihat makin gelisah dengan eksposur terhadap aset AS. Dampaknya, sejumlah mata uang utama dan emas melesat: euro sempat menembus $1,20 untuk pertama kalinya sejak 2021, pound sterling menyentuh level tertinggi 4,5 tahun, sementara yen berada di jalur performa bulanan terkuat melawan dolar sejak April. Pasar juga terus berspekulasi soal kemungkinan intervensi terkoordinasi Jepang–AS untuk menahan pelemahan yen.
Indeks dolar (DXY) yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama sempat naik 0,3% ke 96,216, namun tetap “kepepet” di area terendah empat tahun. Dolar tercatat sudah turun hampir 2,7% sejak Rabu lalu, yang menjadikannya penurunan mingguan terdalam sejak gejolak pasar “Liberation Day” pada April.
Menariknya, dolar yang melemah memang memberi napas bagi Jepang, tapi justru memicu kekhawatiran baru di Eropa. Dua pejabat ECB menilai penguatan euro bisa memengaruhi kebijakan moneter. Gubernur bank sentral Austria, Martin Kocher, menyebut ECB mungkin perlu mempertimbangkan pemangkasan suku bunga lagi jika euro terlalu kuat dan menekan prospek inflasi. Gubernur Bank Prancis François Villeroy de Galhau juga mengatakan otoritas “memantau ketat” apresiasi euro dan dampaknya pada inflasi yang lebih rendah.
Euro sendiri sempat turun hingga 0,63% ke sekitar $1,19623, lalu masih tertekan sekitar 0,5% di kisaran $1,19715—meski tetap mencatat kenaikan sekitar 2% sepanjang bulan ini. Sementara yen yang sebelumnya melonjak lebih dari 1% ke level 152,10 per dolar pada Selasa, sedikit melemah pada Rabu, membuat USD/JPY naik tipis ke 152,43.(yds)
Sumber: Reuters