Dolar Menguat Terbatas, Fed Masih Jadi Faktor Utama
Dolar AS mulai stabil setelah sempat tergelincir di sesi sebelumnya akibat kekhawatiran pasar soal tekanan politik terhadap independensi Federal Reserve. Pada perdagangan Selasa, Dollar Index (DXY) bergerak di sekitar 98,9, menandakan dolar mencoba pulih, meski belum cukup kuat untuk membalikkan sentimen sepenuhnya.
Penguatan dolar ini didukung oleh ekspektasi suku bunga AS yang kembali “naik tipis” setelah beberapa data ekonomi AS dinilai cukup solid. Namun, pasar menilai politisasi The Fed berpotensi menggerus kredibilitas bank sentral dalam memerangi inflasi—dan ini jadi hambatan struktural buat dolar untuk reli besar dalam waktu dekat.
Dari sisi The Fed, Presiden Fed New York John Williams menegaskan kebijakan moneter saat ini “sudah di posisi yang baik” untuk menyeimbangkan stabilisasi pasar tenaga kerja dan mengarahkan inflasi kembali ke target 2%. Proyeksinya untuk 2026: pertumbuhan ekonomi tetap kuat, sementara inflasi diperkirakan sempat berada di kisaran 2,75%–3,0% pada paruh pertama tahun ini sebelum melandai lagi.
Fokus utama hari ini tetap ke data CPI AS. Konsensus pasar memperkirakan inflasi utama dan inti berada di 2,7% (YoY), dengan kenaikan bulanan sekitar 0,3% (MoM). Dari sisi suku bunga, pasar juga masih melihat peluang pemangkasan dalam waktu dekat cukup kecil—sehingga angka CPI yang lebih panas bisa menguatkan dolar, sementara CPI yang lebih dingin bisa bikin dolar kembali melemah. Singkatnya: dolar sedang coba bangkit, tapi arah berikutnya sangat ditentukan oleh CPI dan isu independensi The Fed yang masih jadi sumber “noise” besar.(alg)
Sumber: Newsmaker.id