• Thu, Jan 15, 2026|
  • JKT --:--
  • TKY --:--
  • HK --:--
  • NY --:--

Indonesia News Portal for Traders | Financial & Business Updates

13 January 2026 03:31  |

Drama DOJ vs Powell Tekan Dolar, Pasar Beralih ke Safe Haven

Dolar AS melemah pada Senin (12/1) pasca Departemen Kehakiman AS (DOJ) mengeluarkan surat panggilan (subpoena) kepada Ketua Federal Reserve Jerome Powell, memicu kekhawatiran pasar bahwa independensi bank sentral AS sedang berada di bawah tekanan politik. Kekhawatiran itu ikut membebani prospek jangka panjang dolar, di tengah meningkatnya sensitivitas pasar terhadap headline kebijakan di Washington.

Powell mengatakan pada Minggu bahwa The Fed menerima subpoena dari DOJ pekan lalu, terkait pernyataannya di hadapan Kongres pada musim panas lalu mengenai pembengkakan biaya proyek renovasi kantor pusat The Fed di Washington senilai US$2,5 miliar. Powell menilai langkah tersebut bukan sekadar soal renovasi, melainkan “dalih” untuk membuka ruang intervensi terhadap kebijakan suku bunga—di saat Presiden Donald Trump terus mendorong pemangkasan suku bunga yang lebih agresif.

Gedung Putih berupaya meredam isu itu. Sekretaris pers Karoline Leavitt menegaskan Trump tidak mengarahkan pejabat DOJ untuk menyelidiki Powell. Namun pasar keburu menangkap pesan utamanya: tekanan politik terhadap The Fed meningkat, dan itu cukup untuk menghentikan reli dolar di awal tahun.

“Ini baru saja memutus kenaikan dolar di awal tahun,” kata Marc Chandler, kepala strategi pasar di Bannockburn Global Forex. Menurutnya, efek subpoena bahkan “mengalahkan” dampak geopolitik dalam membentuk sentimen hari itu.

Di pasar, Indeks Dolar (DXY) turun 0,37% ke 98,87. Euro menguat 0,29% ke US$1,1671, sementara franc Swiss termasuk yang paling solid—dolar melemah 0,54% ke 0,797 per franc.

Sementara itu, dinamika politik menjelang pergantian pimpinan The Fed ikut menjadi sorotan. Trump diperkirakan akan memilih Ketua The Fed yang lebih “dovish” saat masa jabatan Powell berakhir pada Mei, meski Powell masih berpeluang bertahan sebagai gubernur The Fed. Fox Business melaporkan Trump akan mewawancarai Rick Rieder (kepala manajer investasi obligasi BlackRock) pada Kamis, dan Rieder disebut masuk dalam empat finalis kandidat pengganti Powell.

Di Capitol Hill, isu ini juga memicu respons. Senator Lisa Murkowski disebut mendukung rencana Senator Republik Thom Tillis untuk memblokir kandidat pilihan Trump di The Fed, sebagai bentuk protes terhadap penyelidikan DOJ yang menyasar Powell.

Pasar Tunggu Arah Tarif dan Data Inflasi AS

Pekan ini, pelaku pasar juga memantau perkembangan kebijakan tarif AS. Dolar sempat menguat pada Jumat setelah data ketenagakerjaan AS yang solid menguatkan ekspektasi bahwa The Fed akan menahan suku bunga pada rapat 27–28 Januari. Kontrak berjangka Fed funds menunjukkan peluang pemangkasan berikutnya kini lebih condong baru sekitar Juni.

Fokus data berikutnya adalah inflasi AS (CPI) Desember yang dirilis Selasa. Data ini menjadi penentu utama apakah ekspektasi pelonggaran moneter masih realistis atau justru kembali mundur—yang ujungnya berpengaruh ke dolar dan aset berisiko global.

Selain itu, permintaan safe-haven terhadap dolar sepanjang tahun ini sebelumnya juga ditopang oleh meningkatnya ketegangan geopolitik—termasuk setelah AS menahan pemimpin Venezuela Nicolas Maduro, serta komentar Trump tentang keinginan AS untuk mengakuisisi Greenland. Perkembangan Iran juga jadi perhatian, karena Teheran menyatakan masih membuka jalur komunikasi dengan AS ketika Trump mempertimbangkan respons atas penindakan keras terhadap aksi protes—situasi yang disebut sebagai salah satu tantangan terbesar bagi rezim sejak 1979.

Analis Nomura yang dipimpin Craig Chan menilai arah USD kini menghadapi tarik-menarik: ada hambatan jangka pendek akibat isu independensi Fed, tetapi dolar tetap punya bantalan dari kebijakan The Fed yang masih relatif ketat serta risiko geopolitik yang belum mereda. Mereka juga menyorot faktor lain: pasar menanti putusan Mahkamah Agung AS terkait legalitas kebijakan tarif Trump berbasis IEEPA, yang berpotensi keluar paling cepat Rabu.

Yen Tertekan, Bitcoin Menguat

Di Asia, dolar menguat tipis 0,15% terhadap yen ke 158,12, setelah sempat menyentuh level tertinggi satu tahun di 158,19. Yen tertekan usai data upah Jepang mengecewakan dan membuat pasar menunda ekspektasi kenaikan suku bunga Bank of Japan. Ketidakpastian politik domestik Jepang juga ikut menambah beban mata uang tersebut.

Di pasar kripto, bitcoin naik 1,15% ke US$91.699, seiring investor tetap aktif di aset alternatif di tengah volatilitas headline makro dan geopolitik.(yds)

Sumber: Newsmaker.id

Related News

US DOLLAR

Dollar Sedikit Melemah Setelah Pulih

Dolar memangkas kenaikan hari Senin (12/05), dengan para pedagang tidak yakin bahwa lonjakannya baru-baru ini di balik mereda...

13 May 2025 15:52
US DOLLAR

Dolar Nunggu Sinyal The Fed

Indeks dolar (DXY) bergerak stabil di atas 98 pada Rabu, tapi masih bertahan dekat level terendah dalam lebih dari dua bulan....

17 December 2025 09:14
US DOLLAR

Dolar AS Tutup Tahun Terbaik Sejak 2015 dengan Bias Bullish

Dolar membukukan penurunan moderat pada hari terakhir tahun ini, yang terbaik dalam hampir satu dekade, karena opsi jangka pa...

31 December 2024 17:05
US DOLLAR

Dolar Terus Turun

Indeks dolar jatuh ke 100,3 pada hari Rabu (14/5), semakin merosot dari level tertinggi satu bulan yang dicapai pada hari Sen...

14 May 2025 17:16
BIAS23.com NM23 Ai