NFP di Bawah Ekspektasi, Dolar Tak Goyah
Indeks dolar Bloomberg menguat tipis setelah rilis data tenaga kerja AS hari Jumat (9/1), meski hasilnya memberi sinyal campuran. Pertumbuhan lapangan kerja Desember lebih rendah dari perkiraan, namun penurunan tingkat pengangguran justru membuat dolar tetap ditopang karena pasar menilai ekonomi belum benar-benar melemah.
Bloomberg Dollar Spot Index naik sekitar 0,1% dan sempat menyentuh puncak harian sesaat setelah data keluar, sebelum pergerakannya kembali lebih tenang. Data menunjukkan NFP hanya bertambah 50 ribu (di bawah perkiraan 70 ribu), sementara tingkat pengangguran turun ke 4,4% (perkiraan 4,5%).
Di pasar obligasi, yield Treasury 2 tahun naik sekitar 2 bps ke 3,51%, menandakan ekspektasi suku bunga masih ketat meski ada “miss” di NFP. Trader tetap memasang skenario sekitar dua kali pemangkasan suku bunga The Fed tahun ini, dan peluang perubahan di Januari dinilai kecil. Sentimen risiko ikut membaik, terlihat dari futures saham AS yang menguat.
Fokus berikutnya beralih ke Mahkamah Agung AS, yang dijadwalkan mengeluarkan keputusan pertamanya pada 2026. Salah satu yang ditunggu adalah putusan terkait legalitas penggunaan IEEPA untuk menerapkan tarif luas oleh pemerintahan Trump—isu yang bisa mengubah arah kebijakan dagang dan memicu volatilitas pasar.
Di pasar euro, EUR/USD turun untuk hari keempat berturut-turut dan sempat melemah sekitar 0,3% ke 1,1627, terendah dalam sebulan. Sejumlah hedge fund disebut agresif memburu opsi put EUR/USD jangka pendek menjelang rilis data, memperlihatkan posisi pasar yang cenderung defensif terhadap euro.
Sementara itu, dolar Kanada (loonie) memangkas pelemahan setelah data tenaga kerja Kanada lebih baik dari perkiraan. USD/CAD turun tipis ke sekitar 1,3877 setelah laporan menunjukkan pekerjaan Kanada naik 8,2 ribu (perkiraan -2,5 ribu), meski tingkat pengangguran naik ke 6,8%.
Di Asia, USD/JPY naik sekitar 0,6% ke 157,80, mendekati level puncak November. Di Inggris, GBP/USD melemah hingga sekitar 1,3400, terendah sejak 22 Desember, sementara obligasi pemerintah Inggris berpeluang mencetak kenaikan mingguan terbesar sejak Oktober karena berkurangnya pasokan obligasi tenor panjang dan meningkatnya ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Bank of England. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id