Dolar Stabil Jelang The Fed; Aussie Menguat Pasca RBA Tahan Suku Bunga
Dolar AS bergerak stabil pada hari Selasa menjelang pemangkasan suku bunga yang sudah banyak diantisipasi dari Federal Reserve, sementara dolar Australia menguat setelah bank sentralnya menutup peluang pelonggaran tambahan.
Pasar saat ini menantikan keputusan pemangkasan suku bunga dari The Fed, sekaligus bersiap menghadapi sejumlah keputusan bank sentral lain sebelum akhir pekan.
“The Fed baru besok, jadi pelaku pasar kemungkinan belum benar-benar mencari posisi baru (repositioning) menjelang hal itu,” kata analis FX Commerzbank, Michael Pfister.
Indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama, naik 0,1% menjadi 99,131.
Para trader juga menantikan rilis indeks optimisme bisnis kecil NFIB untuk November, serta data Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) untuk Oktober yang akan keluar kemudian pada sesi ini.
Investor obligasi mulai mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga di 2026, seiring meningkatnya keraguan bahwa Kevin Hassett, kandidat terkuat pengganti Jerome Powell ketika masa jabatan delapan tahunnya sebagai Ketua The Fed berakhir pada Mei, akan bersikap sedovish yang diharapkan Presiden AS Donald Trump.
Meski demikian, pasar masih meyakini bahwa pelonggaran kebijakan dari bank sentral AS pekan ini hampir bisa dipastikan, dengan fokus kini bergeser pada prospek kebijakan untuk tahun depan.
Di tempat lain, euro bergerak mendatar setelah aksi jual di pasar bund Jerman pada hari Senin, menyusul komentar anggota Dewan ECB Isabel Schnabel kepada Bloomberg News bahwa langkah berikutnya bank sentral Eropa “mungkin” berupa kenaikan suku bunga, bukan pemangkasan seperti yang diharapkan sebagian pelaku pasar—meski ia menambahkan bahwa langkah tersebut tidak akan diambil dalam waktu dekat.
Mata uang tunggal Eropa terakhir kali diperdagangkan flat di $1,1635.
Dolar Australia Menguat; Gempa Goyang Yen
Dolar Australia menguat setelah Reserve Bank of Australia (RBA) memutuskan menahan suku bunga.
Mata uang tersebut naik 0,2% ke $0,6637 setelah bank sentral mempertahankan suku bunga untuk ketiga bulan berturut-turut di level 3,6% sesuai ekspektasi pasar, sekaligus memperingatkan bahwa potensi kenaikan kembali inflasi bisa bersifat persisten.
Hal ini ikut menambah nuansa hati-hati (risk-off) menjelang pertemuan The Fed dan serangkaian keputusan kebijakan bank sentral lain yang akan segera diumumkan, sementara lelang obligasi pemerintah tenor lima tahun mencatat permintaan yang kuat.
Yen Jepang terakhir melemah sekitar 0,3% terhadap dolar AS ke 156,385 per dolar. Yen sempat menguat tipis setelah gempa yang memicu perintah evakuasi dan peringatan tsunami, yang beberapa jam kemudian diturunkan statusnya menjadi sekadar imbauan (advisory).
Yuan Tiongkok yang diperdagangkan di luar negeri (offshore) di Hong Kong menguat 0,1% ke 7,0631 per dolar, setelah pasar menilai pernyataan hasil pertemuan terbaru Politbiro yang dirilis Senin menunjukkan para pembuat kebijakan tidak terburu-buru meluncurkan paket stimulus tambahan.
Poundsterling Inggris bergerak datar di sekitar $1,3322, sementara dolar Selandia Baru naik 0,2% ke $0,579.
Di sisi lain, kripto mengalami tekanan jual: Bitcoin terakhir turun 0,9% ke sekitar $90.533,72, dan Ether melemah 0,4% ke sekitar $3.136,40.(yds)
Sumber: Reuters.com