Dolar Melemah Jelang Keputusan Sulit The Fed
Nilai dolar AS melemah pada perdagangan Senin (8/12) menjelang pekan yang penuh dengan rapat bank sentral, dengan sorotan utama tertuju pada keputusan Federal Reserve pada hari Rabu.
Pasar hampir sepenuhnya memperkirakan akan ada pemangkasan suku bunga, namun komite The Fed yang terbelah membuat arah kebijakan berikutnya terasa rumit dan penuh kejutan.
Sejumlah analis memperkirakan The Fed akan melakukan “hawkish cut” – memangkas suku bunga, tetapi dengan nada pernyataan, proyeksi, dan komentar Jerome Powell yang tetap berhati-hati terhadap pemangkasan lanjutan. Jika The Fed memberi sinyal bahwa peluang pemotongan suku bunga tambahan tahun depan tidak sebesar yang diasumsikan pasar, dolar berpotensi kembali menguat.
Meski dolar sudah melemah tiga pekan terakhir, data menunjukkan spekulan justru memegang posisi beli (long) dolar terbesar sejak sebelum kejutan tarif era Presiden Donald Trump, mencerminkan keyakinan bahwa mata uang ini masih punya ruang menguat.
Di sisi fundamental, gambaran ekonomi AS masih terbilang tangguh: pasar tenaga kerja memang mulai melunak, tetapi pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan masih bertahan, stimulus fiskal baru diperkirakan mulai mengalir, dan inflasi masih berada di atas target 2% The Fed.
Kondisi ini bisa membuat bank sentral enggan terlalu agresif menambah pemangkasan suku bunga.
Di luar AS, euro sedikit menguat ke sekitar $1,1652 seiring kenaikan imbal hasil obligasi di zona euro, sementara dolar Australia sempat menyentuh level tertinggi sejak pertengahan September di $0,6649 sebelum berbalik sedikit melemah.
Sementara Reserve Bank of Australia (RBA) akan menggelar rapat pada Selasa, dengan pasar menilai langkah berikutnya justru berpotensi kenaikan suku bunga, meski sejumlah analis memperkirakan RBA akan menahan suku bunga acuan di 3,60% untuk periode yang lebih panjang sambil memantau data inflasi dan pertumbuhan berikutnya.(yds)
Source: Reuters.com