Pound & Yen Tertekan Ditengah Drama Politik dan Masalah Fiskal
Poundsterling Inggris dan yen Jepang lagi turun pada Rabu (3/9), setelah aksi jual besar-besaran dipicu kekhawatiran investor soal kesehatan keuangan pemerintah global dan ketidakpastian politik di Jepang. Fokus pasar balik lagi ke isu utang negara-negara besar, bikin obligasi pemerintah jangka panjang di Eropa dan AS dibuang, memunculkan ketakutan kalau defisit fiskal makin nggak terkendali.
Di Inggris, imbal hasil obligasi 30 tahun melonjak ke level tertinggi sejak 1998. Akibatnya, sterling makin ringkih dan sempat rontok lebih dari 1% pada Selasa, terakhir diperdagangkan di $1,3378. Kondisi ini makin “berasa” di UK karena publik masih kebayang drama era Liz Truss, ditambah rencana pengumuman anggaran musim gugur yang bikin pasar waspada.
Di Jepang, yen juga nggak kalah tertekan, turun 0,2% ke 148,62 per dolar setelah sehari sebelumnya jatuh 0,8%. Tekanan muncul setelah Hiroshi Moriyama, sekjen partai berkuasa sekaligus orang dekat PM Shigeru Ishiba, nyatakan mundur. Rumor soal kemungkinan Ishiba juga bakal lengser makin bikin yen loyo. Kandidat kuat penggantinya, Sanae Takaichi, dikenal pro suku bunga rendah, yang makin bikin yen rapuh.
Pelemahan pound dan yen otomatis bikin dolar AS makin perkasa, terakhir di level 98,44 terhadap sekeranjang mata uang. Euro, Aussie, dan Kiwi juga ikutan melemah tipis. Sementara itu, perhatian investor kini geser ke data tenaga kerja AS, terutama laporan nonfarm payrolls Jumat ini, yang bisa jadi kunci arah suku bunga The Fed. Imbal hasil obligasi AS tenor 2 tahun turun sedikit ke 3,6495%, tapi yield 30 tahun masih nempel di kisaran 5%, sejalan dengan tren kenaikan global.(yds)
Source: Reuters