GBP/USD Stabil di Tengah Tekanan Dolar dan Risiko Global
GBP/USD bergerak terbatas di sesi Asia, dengan sterling cenderung tertahan di sekitar area 1,35 saat dolar AS masih bertahan dekat level tertinggi satu setengah pekan. Reuters melaporkan greenback tetap kokoh karena kebuntuan antara AS dan Iran menjaga minat terhadap dolar, sementara harga minyak yang kembali di atas US$100 per barel ikut menambah kekhawatiran inflasi global. Data pasar yang dihimpun media Indonesia juga menunjukkan GBP/USD berada di sekitar 1,3501 pada Kamis pagi waktu Asia.
Pergerakan sterling yang cenderung hati-hati menunjukkan pasar belum punya alasan kuat untuk mendorong pound lebih tinggi dalam jangka pendek. Di satu sisi, perpanjangan gencatan senjata AS-Iran sempat meredakan tekanan pasar. Namun di sisi lain, negosiasi damai masih macet, blokade AS terhadap Iran tetap berjalan, dan insiden maritim di Selat Hormuz membuat sentimen aman kembali menopang dolar. Situasi ini membuat GBP/USD sulit mencetak kenaikan yang lebih meyakinkan.
Tekanan pada sterling juga datang dari fakta bahwa dolar saat ini masih didukung ekspektasi suku bunga AS yang cenderung bertahan tinggi lebih lama. Reuters mencatat para ekonom kini melihat Federal Reserve kemungkinan menahan suku bunga setidaknya enam bulan lagi, seiring lonjakan harga energi yang menghapus harapan pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat. Ketika dolar ditopang kombinasi sentimen safe haven dan imbal hasil, ruang penguatan GBP/USD otomatis menjadi lebih sempit.
Dengan demikian, arah GBP/USD untuk saat ini masih cenderung konsolidatif. Sterling belum sepenuhnya kehilangan daya tahan, tetapi juga belum punya momentum yang cukup untuk menembus lebih tinggi selama dolar tetap kuat dan risiko geopolitik belum reda. Fokus pasar berikutnya akan tertuju pada data ekonomi AS, arah harga energi, dan apakah ketegangan Timur Tengah benar-benar mereda atau justru kembali memburuk.(Zaf)
Sumber: Newsmaker.id