Sterling Rapuh saat Risiko Energi Kembali Menguat
GBP/USD bertahan di sekitar 1,321 pada perdagangan Senin (6 April 2026) di tengah likuiditas yang lebih tipis karena sebagian pasar libur. Pergerakan cenderung terbatas karena pelaku pasar menunggu kejelasan arah sentimen risiko global di tengah ketegangan Timur Tengah.
Dukungan dolar terutama datang dari data tenaga kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan. Nonfarm payrolls Maret naik 178.000 dan tingkat pengangguran turun ke 4,3%, mendorong penilaian bahwa The Fed tidak perlu terburu-buru melonggarkan kebijakan, sehingga dolar tetap relatif kuat terhadap mata uang utama.
Faktor geopolitik juga menjaga permintaan dolar sebagai aset aman. Reuters melaporkan Presiden AS Donald Trump memberi ultimatum agar Iran membuka kembali Selat Hormuz, yang membuat pasar sensitif terhadap risiko gangguan pasokan energi dan potensi eskalasi lanjutan.
Bagi sterling, risiko energi menjadi titik lemah karena kenaikan biaya impor dapat menekan prospek pertumbuhan sekaligus menjaga tekanan inflasi. Survei PMI manufaktur Inggris menunjukkan lonjakan biaya input yang sangat tajam, sejalan dengan gangguan rantai pasok dan kenaikan biaya transportasi terkait konflik.
Pasar kini menunggu katalis berikutnya, terutama rilis ISM Services PMI AS yang dapat mengubah ekspektasi suku bunga dan arah dolar dalam jangka pendek, serta perkembangan konkret seputar Selat Hormuz yang memengaruhi harga minyak dan sentimen risiko. Dalam beberapa hari ke depan, pergerakan GBP/USD juga akan dipengaruhi oleh bagaimana pasar menilai trade-off Inggris antara tekanan inflasi energi dan daya tahan pertumbuhan, yang pada akhirnya membentuk ekspektasi kebijakan Bank of England.(Zaf)
Sumber: Newsmaker.id