Euro Dekati Level Terendah Dua Bulan, Konflik Timur Tengah Jadi Tekanan
Euro bergerak stabil tipis pada Senin (08/06) di atas level US$1,15, namun masih berada dekat posisi terlemahnya sejak 3 April. Tekanan terhadap mata uang tunggal Eropa muncul setelah ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat, memicu kekhawatiran bahwa konflik Iran dapat berlangsung lebih lama dan mengganggu stabilitas pasar global.
Sentimen pasar semakin tertekan setelah harga minyak Brent melonjak lebih dari 4%, menyusul saling serang rudal antara Iran dan Israel. Meski Presiden Donald Trump menyerukan penghentian konflik dan mendorong pembicaraan damai, investor tetap khawatir eskalasi tersebut dapat memperbesar risiko inflasi melalui kenaikan harga energi.
Di sisi kebijakan moneter, investor kini bersiap menghadapi kemungkinan kenaikan suku bunga oleh European Central Bank (ECB) pada pekan ini. Pelaku pasar memperkirakan ECB dapat melakukan tiga kali kenaikan suku bunga, dengan kenaikan pertama berpotensi terjadi secepatnya pada 11 Juni, setelah inflasi kawasan euro naik ke 3,2% pada Mei, level tertinggi dalam lebih dari dua setengah tahun.
Namun, prospek euro masih dibayangi oleh pelemahan ekonomi kawasan. Data terbaru menunjukkan GDP Zona Euro direvisi mengalami kontraksi pada kuartal I 2026, menjadi penurunan pertama sejak akhir 2022 dan yang terdalam sejak pertengahan 2020. Ke depan, investor akan mencermati arah harga minyak, perkembangan konflik Timur Tengah, serta keputusan ECB sebagai penentu utama pergerakan euro berikutnya. (asd)
Sumber: Newsmaker.id