EUR/USD Turun di Tengah Risiko Perang
Euro kembali melemah terhadap dolar AS di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap eskalasi perang di Iran. Sentimen risk-off membuat investor cenderung mencari perlindungan pada dolar AS, sementara euro tertekan oleh kekhawatiran bahwa konflik berkepanjangan di Timur Tengah dapat memperburuk prospek pertumbuhan kawasan euro. Reuters melaporkan dolar menguat seiring investor mencari aset aman, sementara euro dan pound ikut melemah terhadap greenback di tengah kekhawatiran ketegangan Timur Tengah.
Tekanan terhadap euro semakin besar karena kawasan Eropa dinilai lebih rentan terhadap lonjakan harga energi. Jika konflik Iran mengganggu pasokan minyak dan gas melalui jalur strategis seperti Selat Hormuz, biaya energi global berpotensi meningkat dan menekan aktivitas ekonomi Eropa. Pejabat ECB Yannis Stournaras menyebut kekhawatiran resesi di zona euro sebagai hal yang “nyata dan beralasan” karena perang Iran, harga energi tinggi, dan ketidakpastian yang meningkat.
Di sisi lain, dolar AS masih mendapat dukungan dari ekspektasi bahwa The Federal Reserve akan menahan suku bunga tinggi lebih lama. Risiko inflasi akibat kenaikan harga energi membuat peluang pemangkasan suku bunga semakin dipertanyakan. Kondisi ini memperkuat posisi dolar karena selisih kebijakan moneter AS dan Eropa masih menjadi perhatian utama pelaku pasar.
Bagi EUR/USD, situasi ini menciptakan tekanan ganda: euro dibebani risiko pertumbuhan Eropa, sementara dolar ditopang permintaan safe haven dan ekspektasi suku bunga tinggi. Selama ketegangan Iran belum mereda, EUR/USD berpotensi tetap bergerak defensif. Namun jika muncul sinyal de-eskalasi yang kuat, tekanan terhadap euro bisa mereda dan minat terhadap aset berisiko berpeluang kembali pulih.(CP)
Sumber: Newsmaker.id