Dolar Australia Tertekan saat Dolar AS Kembali Menguat
AUD/USD melemah ke sekitar level 0,7000 pada perdagangan Senin (3/8), turun sekitar 0,30%. Tekanan terhadap dolar Australia muncul karena dolar AS kembali menguat, sehingga mengimbangi dukungan dari data ekonomi Tiongkok yang masih menunjukkan ekspansi.
PMI Manufaktur RatingDog Tiongkok turun ke 50,9 pada Juli dari 51,7 pada Juni, lebih rendah dari ekspektasi pasar di 51,5. Meski melambat, angka tersebut masih berada di atas batas 50, yang berarti aktivitas manufaktur Tiongkok tetap berada di zona ekspansi. Hal ini membantu membedakan pelemahan dolar Australia, mengingat Tiongkok merupakan mitra dagang terbesar Australia.
Komentar dari Reserve Bank of Australia atau RBA juga masih memberikan dukungan terhadap ekspektasi kebijakan moneter yang restriktif. Deputi Gubernur RBA Sarah Hunter mengatakan bahwa perlambatan inflasi terbaru terutama didorong oleh penurunan harga bahan bakar, sementara inflasi inti masih berada di atas target bank sentral sebesar 2%–3%. Oleh karena itu, pasar tetap memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga lagi pada tahun ini.
Sementara itu, dolar AS kembali mendapat dukungan setelah sempat melemah sebelumnya. Investor masih mencermati perkembangan geopolitik setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan telah menangguhkan rencana serangan militer terhadap Iran untuk memberi ruang bagi negosiasi terkait program nuklir Iran dan pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh.
Namun, pejabat Iran membantah klaim Trump dan menyebutnya sebagai pernyataan yang tidak benar. Teheran juga menyatakan bahwa angkatan bersenjatanya tetap dalam kondisi siaga tinggi. Pernyataan yang saling bertentangan ini membuat sentimen pasar tetap berhati-hati dan membatasi minat investor terhadap aset berisiko.
Pasar juga menilai dampak keputusan OPEC+ untuk meningkatkan produksi pada bulan September. Langkah tersebut ikut menekan harga minyak dan menurunkan ekspektasi terhadap pengetatan moneter tambahan oleh Federal Reserve.
Dari sisi dampak pasar, AUD/USD masih berpotensi bergerak volatil karena menunggu data ISM Manufacturing PMI AS pada Senin malam dan laporan Nonfarm Payrolls atau NFP pada Jumat. Jika data AS kuat, dolar AS kembali menguat dan menekan Aussie. Namun, jika data melemah, AUD/USD berpotensi mendapat ruang rebound. (asd)
Sumber: Newsmaker.id