Saatnya AUD Balas Dendam ke Dolar AS?
Dolar Australia (AUD) menguat terhadap Dolar AS (USD) pada hari Jumat(21/11) setelah sebelumnya melemah dua hari beruntun. Penguatan ini muncul setelah rilis awal data PMI Global S&P Australia yang solid. PMI Manufaktur naik ke 51,6 dari 49,7, sementara PMI Jasa menguat ke 52,7 dan PMI Komposit naik ke 52,6. Angka di atas 50 artinya aktivitas bisnis sedang berkembang, dan ini memberi sinyal bahwa ekonomi Australia masih cukup sehat.
Sentimen positif terhadap AUD juga didukung ekspektasi bahwa bank sentral Australia (RBA) akan bersikap hati-hati dan kemungkinan menahan suku bunga cukup lama, selama data ekonomi tetap oke. Risalah rapat RBA bulan November mengindikasikan mereka tidak buru-buru mengubah kebijakan jika ekonomi berjalan lebih baik dari perkiraan. Sikap ini membuat pasar melihat Aussie punya “fundamental” yang lumayan kuat dibanding sebelumnya.
Asisten Gubernur RBA, Sarah Hunter, mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang terlalu kencang bisa memicu tekanan inflasi, dan menegaskan RBA tidak akan bereaksi berlebihan hanya pada data inflasi bulanan yang cenderung fluktuatif. Di pasar futures, kontrak suku bunga tunai ASX 30-hari untuk Desember 2025 hanya mencerminkan peluang sekitar 8% pemangkasan suku bunga dari 3,60% menjadi 3,35%. Artinya, pasar belum benar-benar yakin RBA akan segera menurunkan suku bunga, dan hal itu ikut menjadi penopang bagi penguatan AUD. (az)
Sumber: Newsmaker.id