Reli Perak Berlanjut Di Tengah Ketegangan AS-Tiongkok dan Pasokan
Harga perak mencatat lonjakan signifikan pada perdagangan hari Senin (13/10), menyentuh sekitar US$ 51,70 per ons, naik sekitar 2,90 % dibandingkan posisi penutupan Jumat lalu di US$ 50,05. Lonjakan ini membawa performa perak menjadi salah satu yang paling kuat di antara logam mulia tahun ini, memicu sorotan bahwa pasar sedang memasuki fase bullish yang intensif.
Dorongan fundamental utama datang dari ketegangan perdagangan AS–Tiongkok yang kembali meningkat, yang memicu arus "capital flight" ke aset safe haven seperti logam mulia. Di sisi lain, pasar fisik menunjukkan tekanan pasokan yang nyata, terutama di pusat perdagangan London, hingga muncul istilah “state of seizure” pada pasar perak karena kesulitan penyediaan logam fisik. Permintaan dari sektor industri — seperti elektronik, panel surya, dan teknologi bersih — juga memperkuat ekspektasi bahwa reli perak tak hanya bersifat spekulatif, melainkan juga didukung kebutuhan nyata.
Meski optimisme kuat, para analis memperingatkan bahwa volatilitas kedepannya bisa tajam. Goldman Sachs misalnya mengingatkan bahwa meskipun perak memiliki peluang kenaikan, logam ini lebih rentan terhadap fluktuasi dibanding emas karena basis permintaan institusional yang lebih lemah. Tekanan dari suku bunga AS, kekuatan dolar AS, dan kemungkinan koreksi teknikal juga patut diwaspadai sebagai faktor pemicu pelemahan mendadak. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id