Data AS Menguat, Perak Langsung Terpukul
Harga perak bergerak di sekitar US$57,40 per troy ounce pada Senin (3/8), turun kurang lebih 0,4% dari penutupan sebelumnya. XAG/USD sempat bergerak lebar di kisaran US$56,57–US$58,65, menunjukkan volatilitas tinggi setelah rilis data ekonomi Amerika Serikat.
Tekanan muncul setelah ISM Manufacturing PMI AS melonjak menjadi 55,6 pada Juli, dari 53,3 pada Juni dan melampaui perkiraan 54,0. Angka tersebut merupakan level tertinggi sejak Mei 2022, sekaligus menunjukkan aktivitas manufaktur telah berekspansi selama tujuh bulan berturut-turut.
Komponen tenaga kerja turut menguat menjadi 52,8 dari 49,7, menandakan perusahaan manufaktur kembali menambah pekerja. Sementara itu, indeks harga turun menjadi 71,1 dari 73,0, tetapi masih menunjukkan biaya bahan baku meningkat dengan cepat dan tekanan inflasi belum sepenuhnya reda.
Data ekonomi yang kuat memberi The Fed ruang lebih besar untuk mempertahankan suku bunga tinggi atau kembali mengetatkan kebijakan. Kondisi tersebut menjadi tekanan bagi perak karena logam mulia ini tidak memberikan bunga, sehingga daya tariknya berkurang ketika imbal hasil aset berbunga meningkat.
Namun, pelemahan perak masih tertahan oleh dolar yang bergerak defensif dan yield Treasury yang sebelumnya turun ke sekitar 4,69%. Penurunan harga minyak akibat harapan diplomasi AS–Iran membantu meredakan kekhawatiran inflasi, sehingga membatasi ekspektasi pengetatan The Fed yang terlalu agresif.
Analisis Newsmaker: Silver masih rawan tertekan selama bertahan di bawah US$58,00–US$58,65. Area US$57,00 menjadi support awal, diikuti US$56,55. Data manufaktur yang kuat sebenarnya positif bagi permintaan industri perak dalam jangka menengah, tetapi untuk jangka pendek, kekhawatiran suku bunga tinggi masih menjadi penggerak yang lebih dominan. (arl)
Sumber : Newsmaker.id