Perak Tembus $66! Emas Ikut “Keangkat”
Harga perak sempat menembus $66/oz untuk pertama kalinya dan mencetak rekor tertinggi baru pada Rabu (17/12). Di saat yang sama, emas ikut menguat karena pasar kembali berharap The Fed bisa memangkas suku bunga, ditambah meningkatnya tensi AS–Venezuela yang mendorong permintaan aset aman.
Perak spot naik sekitar 2,8% ke $65,55/oz, setelah sebelumnya menyentuh puncak $66,52 dalam sesi yang sama. Analis menilai perak saat ini seperti “menarik” emas ikut naik, karena ada aliran dana yang mulai bergeser dari emas ke perak, platinum, dan palladium. Target jangka pendek perak pun mulai disebut-sebut mengarah ke $70/oz.
Emas spot naik sekitar 0,8% ke $4.335/oz, setelah sempat menguat lebih dari 1% lebih awal. Kontrak berjangka emas AS juga menguat. Kenaikan ini mempertegas bahwa pasar masih menempatkan logam mulia sebagai pilihan utama ketika suku bunga diperkirakan akan lebih longgar.
Pemicu utama datang dari data tenaga kerja AS: penambahan pekerjaan November memang +64.000 (lebih tinggi dari perkiraan), tapi tingkat pengangguran naik ke 4,6%—tertinggi sejak 2021. Buat pasar, ini sinyal bahwa tenaga kerja melemah pelan-pelan, dan pelemahan seperti ini biasanya meningkatkan peluang pemangkasan suku bunga, yang cenderung positif untuk aset seperti emas dan perak (karena tidak memberi bunga).
Pelaku pasar masih melihat peluang The Fed akan melakukan dua kali pemangkasan suku bunga pada 2026, setelah pekan lalu The Fed memberikan pemangkasan seperempat poin ketiga dan terakhir untuk tahun ini. Fokus besar berikutnya adalah CPI (Kamis) dan PCE (Jumat), yang akan jadi penentu apakah inflasi cukup jinak untuk membuka ruang cut.
Selain faktor ekonomi, unsur geopolitik ikut memperkuat reli logam mulia. Trump memerintahkan “blokade” kapal tanker minyak bersanksi yang masuk dan keluar Venezuela, sehingga tensi meningkat dan permintaan safe haven ikut naik.
Di logam lain, platinum naik ke level tertinggi dalam lebih dari 17 tahun, dan palladium juga menguat ke level tertinggi sejak awal 2023.(yds)
Sumber: Tradingeconomics.com